Why Do I Travel Alone, A Lot ?

Tiga tahun lalu, saya mengukuhkan predikat saya sebagai orang yang suka solo-travelling. Ketika itu saya melakukan perjalanan yang saya sebut South East Asia Trip, dimana saya mengunjungi 5 negara di Asia Tenggara, Malaysia, Thailand, Kamboja, Vietnam, dan Singapura. Walaupun tidak lengkap, tapi demi menambah kesan dramatisnya, saya menamainya demikian.

Beberapa tahun kemudian, saya menambah perbendaharaan solo-travelling saya, baik domestik maupun luar negeri. Tapi bukan berarti saya selalu pergi sendiri, jika ada teman yang asik dan tujuan yang oke, saya tentu saja ikut liburan barengan.

Karena kebiasaan tersebut, ada beberapa pertanyaan yang sering muncul dari teman-teman saya.

Kamu tidak takut pergi sendirian? 

Saya termasuk orang yang nekat untuk masalah travelling. Kekhawatiran tentu saja ada, tapi selalu lenyap ketika saya sudah sampai di tempat itu. Sejak SMP saya sudah belajar untuk jauh dari rumah dan merantau di daerah orang, jadi saya sudah terbiasa dengan orang asing. Untuk transportasi, asal tujuan jelas dan ada kendaraan umum, pasti saya akan kunjungi.

Tidak takut tersesat?

Jaman sekarang sepertinya kata ‘tersesat’ sudah bukan menjadi kamus dalam perjalanan generasi millenial. Dengan smartphone, kita bisa menyusuri gang-gang sempit kota-kota di seluruh dunia. Kalaupun daerah itu belum masuk ke google maps, kita bisa bertanya ke penduduk setempat. Easy!

Kamu menginap dimana?

Ketika penghasilan saya masih pas-pasan, sekarang juga masih pas-pasan sih, saya selalu mencari penginapan yang paling murah. Saya sering menginap di hostel-hostel paling murah, yang isinya bisa sampai 16 orang. Saya juga pernah menginap di ruangan yang campur antara cowok dan cewek. Untuk mencari penginapan, saya selalu membandingkan harga di hostel.com, booking.com, pegi2.com, dll. Kadang-kadang ketika saya ingin sedikit agak mewah, saya menginap di Hotel. Tentu saja dengan harga yang masih murah. :D

Rasanya tidur sekamar dengan orang lain?

Tentu saja privasi semakin terbatas. Tergantung dari model hostel yang dipilih. Ada yang benar-benar terbuka antara bed satu dengan yang lain, ada juga yang memiliki penyekat. Saya sangat concern dengan privasi, jadi ketika harus menginap di hostel, saya harus mengorbankan ‘kenyamanan’ itu. Hehe. Satu hal yang saya paling harapkan sebelum masuk hostel adalah, saya tidak sekamar dengan orang yang ngorok. Its a nightmare for me. Pernah ketika di Oslo, Norwegia, saya sekamar dengan teman yang ngoroknya luar biasa. Hasilnya saya tidak bisa tidur sampai pagi.

Ada pengalaman menarik menginap di hostel?

Banyak. Di Stockholm pernah saya harus ‘mencuri’ pasta gigi teman sekamar karena tidak bawa. *ups sorry. Terus ketemu room-mate yang berisik, ini hampir di setiap hostel. Di Bangkok ketemu orang yang tidurnya telanjang dengan santainya, padahal itu adalah mixed room. Masih di Bangkok, saya pernah (tidak sengaja) mandi di bathroom yang harusnya buat cewek, trus kedapatan pemiliknya. *untung gak diusir. Kemudian pernah ‘dilecehkan’ oleh sekumpulan cewek-cewek yang mabok di Phuket. Saya sendirian di kamar yang penuh cewek. Haha. Di Denmark pernah suatu pagi mendapat surat cinta dari cewek di seberang tempat tidur, padahal harusnya buat cowok Jepang yang tidur dibawah saya. *setelah saya konfirmasi beberapa bulan setelahnya via email di surat itu.

Tapi dari semua itu yang paling menarik adalah ketemu dengan orang-orang dengan latar belakang yang berbeda. Bisa berbagi cerita.

Berapa lama persiapan sebelum berangkat?

Untuk perjalanan jauh, misalnya ke luar negri, saya pasti mempersiapkannya beberapa bulan sebelumnya. Tentu saja ini berkaitan dengan tiket pesawat. Biasanya tiket promo adanya setahun atau 6 bulan sebelum berangkat. Jadi kadang itinerarynya harus disesuaikan dengan jadwal tiketnya.

Style travelling kamu?

Awalnya saya suka dengan city travelling, dimana kita mengunjungi kota-kota yang sudah terkenal. Namun kemudian saya juga merambah ke nature travelling, misalnya hiking atau mendaki gunung.

Pernah kecopetan?

Dulu waktu ke Jogja saya pernah kecopetan di bus Transjogja. Waktu itu saya punya iPod yang baru beberapa bulan saya beli. Sialnya saya baru sadar kalau iPod saya hilang beberapa hari kemudian. Selain itu tidak ada kejadian lagi.

Hal yang menjadi hambatan selama traveling?

Pertama adalah makanan. Saya bukan orang yang suka eksplore kuliner, jika ada nasi dan lauk, itu csudah ukup. Bahkan sampai saat ini saya masi dibully oleh bos saya karena bawa beras ke Italy. Lidah saya sudah sangat Indonesia, jadi ketika mencari makanan di luar negri, agak susah. Saya pilih yang murah saja asalkan kenyang. Hehe.

Kedua adalah biaya. Jika jalan sendiri, kita tidak bisa sharing cost. Jadi semua cost ditanggung sendirian. Lumayan juga sih, tapi dengan sendirian saya bisa kemanapun saya mau. Haha.

Pernah ketinggalan pesawat?

Pernah! Ketika itu saya berangkat dari Vietnam menuju Singapura. Untungnya setelah bolak-balik hostel bandara, semuanya bisa teratasi. Problemnya adalah agen dimana saya membeli tiket tidak meneruskan info perubahan jadwal ke saya.

Selain itu ketika berangkat dari Roma ke Gothenburg, hampir ketinggalan pesawat gara-gara bandaranya penuh. Ini bukan kesalahan penumpang. Sampai akhirnya penumpang tidak harus melewati gerbang pemeriksaan, langsung menuju pesawat. >.<

Perjalanan paling nekat?

Ketika saya hiking di bagian utara Swedia. Sendirian sepanjang 120km.

Terakhir, jadi kenapa sendirian? Tidak punya teman? :D

Jadi kalau menurut tes MBTI test, saya termasuk type INFJ, the real introvert, only 1-2% of pupulation. Hehe. Saya lebih suka berjalan sendiri karena saya menemukan kenyamanan disitu. *mungkin-hanya-introvert-yang-mengerti.

Selain itu saya orangnya cukup random, jadi dengan jalan sendiri saya bisa improvisasi itinerary saya. Walupun random, saya juga ontime. Pengalaman saya ketika jalan dengan teman-teman adalah saya harus membangunkan mereka pagi-pagi dan merusak mood saya. Haha. Masalah lain ketika harus liburan rame-rame adalah menyesuaikan jadwal dan interest masing-masing. Tentu saja tidak semua anggota akan terpuaskan, jadi saya memilih pergi sendiri. Apalagi ketika ada tiket promo, dan batas waktu pemesanannya terbatas.

Tapi seperti yang saya bilang sebelumnya, kadang saya pergi dengan teman-teman dekat kok. I do have some friends loh..

 

Leave a Reply