Toleransi? Lihatlah di Toraja

Salah satu topik yang menjadi pusat perhatian masyarakat dan isue yang sangat sexy untuk di-blow up  media : Toleransi.

Hampir setiap bulan kita mendengar berita yang mencederai toleransi di negri ini, disamping kasus Jessica yang belum kelar-kelar. Mulai dari pembakaran Wihara sampai penyerangan sejumlah oknum ke sebuah Gereja. Masyarakaat mulai mempertanyakan, pakah di negri ini masih ada toleransi antar umat beragama?

Indonesia selalu [mengaku] bangga akan tolerasi beragama yang dijunjung tinggi. Namun bagi saya sendiri itu hanyalah sebuah fatamorgana. Mungkin toleransi di negeri ini jauh lebih baik dibandingkan dengan di negeri lain. [Mungkin!]. Tapi dari beberapa negeri yang pernah saya kunjungi, toleransi mereka jauh lebih baik dibandingkan negeri ini. Ironisnya negeri itu tidak beragama. #sigh.

Kembali ke topik. Contoh yang sangat jelas mengenai tolerasi beragama adalah kebebasan untuk melaksanakan ibadah. Terus terang di tulisan ini saya akan menulisakan friksi antara kaum mayoritas (Muslim) dan minoritas (non muslim) dimana kaum mayoritas memiliki ‘keleluasaan’ untuk membatasi sang minoritas. Kenapa? Karena itu yang saya saksikan.

Ketika saya masih sekolah di Makassar, dominasi kaum mayoritas sangat terasa. Masih teringat ketika terjadi pembakaran di Gereja Kare. Untungnya saat ini Gereja tersebut sudah memiliki gedung megah yang baru. Terima kasih untuk pemerintah. Sebelum-sebelumnya, gedung gereja dilarang untuk dibangun dengan megah, dilarang untuk memasang menara salib, dan bahkan dilarang untuk membunyikan lonceng gereja (sampai saat ini).

Di tempat lain mungkin memiliki cerita berbeda, misalnya saja pembangunan gereja di Bekasi yang dihalang-halangi, dan juga di beberapa tempat dengan salah satu alasan akan menyebarkan ajaran Kristen atau Kristenisasi. Menurut saya pribadi, jika Iman anda kuat, anda tidak akan terpengaruh oleh bunyi lonceng atau gedung gereja di tempat anda. Di gereja Katolik sendiri, kami tidak bernafsu untuk menambah umat dengan paksa atau dengan iming-iming. Jika kami melakukan bakti sosial, itu pure karena ajaran kasih, jadi bukan untuk membeli iman anda. Anda berbuat baik/kasih ke orang lain, kami sudah bahagia tanpa anda harus menjadi Katolik.

Anyway, kenapa bawa-bawa Toraja?

Di Toraja, yang menjadi kaum mayoritas adalah orang Kristen. Hanya sejumlah kecil masyarakat yang beragama Muslim dan lainnya, itu pun karena mereka pendatang. Namun disini kami sangat menghormati mereka, terutama dalam kebebasan menjalankan ibdah. Mesjid dibangun dengan bebas, asal sesuai ijin, seperti pembangunan Gereja. Masjid pun dengan bebas memperdengarkan panggilan untuk sholat melalui speaker. Suaranya pun tidak kami protes karena terlalu kencang, walaupun umat yang sholat tidak sebanyak itu sehingga membutuhkan suara yang keras. Bahkan ketika kami sedang khusuk beribadah di gereja, suara masjid tetap terdengar di telinga kami. Kalau karena alasan mengganggu atau bisa menyebarkan ajaran Islam, bisa saja kami protes. tapi tidak, karena kami tau apa yang kami Imani.

Di acara-acara tertentu, selalu ada pemisahan antara makanan muslim dan non muslim. Bahkan di sekolah-sekolah sudah mulai untuk melarang penyembelihan babi jika ada ‘pesta’, ini untuk menghargai kaum muslim. Penggunaan busana muslim sangat bebas di tanah ini, bahkan yang menutupi semua badan pun ada. Dan kami tidak risih akan itu.

Begitulah sidikit potret toleransi di negri Toraja. Mungkin orang beranggapan kami ini cuek atau terlalu lemah untuk tidak mengintimidasi? Tentu tidak, itu karena kami menjunjung toleransi..

Tujuan saya membuat tulisan ini hanyalah curahan uneg-uneg saya selama ini. Mungkinkah jika hal tersebut yang kami lakukan di Toraja ini bisa diterapkan di tempat lain juga?

[Mungkin] [Semoga]

 

 

One thought on “Toleransi? Lihatlah di Toraja

Leave a Reply