Toraja or Brazil ?

Everyone knows the statue of Christ The Redeemer in Brazil. It is a popular tourist destination in South America, especially for Christian people. And now, we have it also in Toraja. Its called Christ The King. The height is taller than the one in Brazil. It was built two years ago and it almost finish now.

IMG_1113
Waiting for Sunrise

I have been there several time to take picture from above. This morning, ramdomly I decided to climb again. It was a perfect moment because the mountain is covered by the mist and cloud. I went there by motorcylce. The road is better than before. It took about 30 minutes from my home. Continue reading “Toraja or Brazil ?”

crew film

Hari yang sangat melelahkan setelah mencoba untuk mengerjakan TA seharian. Berfikir untuk melanjutkannya pada malam hari, tapi badan ini sudah tidak mampu. tiba-tiba ada ajakan dari Fany untuk karaoke malam ini. Sungguh ajakan yang sangat menarik. Langsung saya iyakan. Jam 7 kami bertemu di ciwalk. Seperti biasa, anggota yang datang adalah Fany, Carien, Hugo dan Yopie [minus yendri,delila,ivan]

Awalnya ingin memesan yang jam 7 tapi karena yang lain telat, jadinya diundur ke jam 8.30 . Sambil menunggu waktu, kami makan malam dulu di treehouse. Ternyata waktu berlalu begitu cepat sehingga kami telat ke NAV. Jadi reservasi kami dibatalkan, untungnya ada yg lagi kosong jadi kami langsung masuk.

Continue reading “crew film”

‘Rumah’ Orang Mati

Membaca judul diatas pasti membuat kita mengernyitkan dahi. Orang mati punya rumah? Ya, itu terjadi di Toraja. Sebelum ajaran nasrani masuk ke toraja, terdapat kepercayaan kuno yang disebut Aluk Todolo. Ajaran ini sama seperti ajaran animisme dan dinamisme  yang lain. Ajaran ini mengatakan, jika seeseorang mati, dia kan pergi ke alam nirwana (dalam bahasa toraja disebut Puya) yang letaknya di bagian selatan. Orang toraja percaya kehidupan datangnya dari utara dan kematian akan bermuara ke selatan. Dia akan membawa harta kekayaan yang dia miliki selama hidup di dunia. Untuk Pergi ke Puya, dia akan mengendarai hewan-hewan sperti kerbau. Maka dari itu, ratusan kerbau dan babi bisa dikurbankan pada pesta kematian di Toraja.

Pada jaman dahulu, untuk ‘menguburkan’ mayat dapat dilakukan dengan menyimpannya di gua pada tebing-tebing gunung yang terjal. Kemiringannya bisa sampai 90 derajad. Hal ini agar harta yang disertakan dalam gua itu tidak dapat diambil oleh orang. Semakin tinggi gua tersebut, maka semakin tinggi status sosial yang dia miliki. Lain lagi jika yang meninggal adalah bayi. Bayi yang meninggal itu akan dimasukkan ke pohon besar yang telah dilubangi terlebih dahulu.

Continue reading “‘Rumah’ Orang Mati”

MA’ NENE, TRADISI MENGENANG LELUHUR

image

Kabut tipis menyelimuti pegunungan Balla, Kecamatan Baruppu, Tana Toraja, Sulawesi Selatan, pertengahan Agustus silam. Namun, kabut tersebut perlahan mulai tersibak dinginnya angin pagi. Hari ini, kesibukan luar biasa terjadi pada setiap penghuni warga Baruppu. Mereka tengah menggelar sebuah ritual di tempat awal mula sejarah dan misteri anak manusia yang mendiami Kecamatan Baruppu. Ritual yang selalu digelar seluruh warga Baruppu untuk melaksanakan amanah leluhur. Ma`nene, sebuah tradisi mengenang para leluhur, saudara, dan handai taulan lainnya yang sudah meninggal dunia.

Kisah Ma`nene bermula dari seorang pemburu binatang bernama Pong Rumasek, ratusan tahun lampau. Ketika itu, dirinya berburu hingga masuk kawasan hutan pegunungan Balla. Di tengah perburuannya, Pong Rumasek menemukan jasad seseorang yang meninggal dunia, tergeletak di tengah jalan di dalam hutan lebat. Mayat itu, kondisinya mengenaskan. Tubuhnya tinggal tulang belulang hingga menggugah hati Pong Rumasek untuk merawatnya. Jasad itu pun dibungkus dengan baju yang dipakainya, sekaligus mencarikan tempat yang layak. Setelah dirasa aman, Pong Rumasek pun melanjutkan perburuannya.

Continue reading “MA’ NENE, TRADISI MENGENANG LELUHUR”