Toraja Culinary

Traveling ke Toraja bisa cukup merepotkan bila dikaitkan dengan makanan. Beberapa tahun yang lalu cukup sulit untuk mendapatkan makanan halal di Toraja. Hanya beberapa warung yang menjualnya. Namun sekarang sudah banyak warung yang menyiapkan makanan halal buat teman-teman muslim.

Selain kesulitan mencari makanan halal, untuk mencari warung pun tidak banyak. Budaya orang Toraja yang masih menganggap kalau mau makan harus di rumah sendiri. Demikian halnya untuk minum kopi. Jadi jangan heran jika tidak banyak warung makan dan warung kopi di Toraja. Tapi saya yakin ke depannya akan bermunculan warung atau restoran untuk menopang program pemerintah yang menjadikan Toraja sebagai salah satu tujuan prioritas pariwisata.

Jadwal off dari project kali ini saya habiskan di rumah saja, di Toraja. Biasanya saya keluyuran travelling, tapi sekarang waktunya untuk bertemu dengan orang tua. Kesempatan ini saya gunakan untuk melampiaskan kerinduan saya akan makanan rumah terutama makanan khas Toraja.

Berikut ada beberapa masakan khas yang harus dicoba jika berkunjung ke Toraja. (non halal).

Pa’piong

Bisa dibilang ini adalah makanan ultimate dari Toraja, yang benar-benar khas. Pa’piong identik dengan bambu dan daging babi. Cara pembuatannya adalah dengan memotong-motong daging babi ke ukuran yang kecil kemudian digabungkan dengan daun mayana dan bumbu-bumbu lainnya. Kemudian campuran itu dimasukkan ke dalam bambu yang tidak terlalu tua, kemudian dibakar. Waktu pembakaran kira-kira 30-40 menit.

Rasanya tidak perlu dipertanyakan lagi. Saya paling suka kalau sehabis dibakar, disimpan dan kemudian disangrai. Dengan sangrai ini, daun mayana dan dagingnya menjadi lebih crunchy.

sumber : sindonews

Saat ini varian dari pa’piong sudah banyak. Daun mayana tidak lagi mendominasi sebagai bahan utama, bisa diganti dengan daun lainnya, saya lupa namanya, bisa juga menggunakan nangka muda, batang pisang, atau bumbu rica-rica.

Untuk versi halalnya, daging babi bisa diganti dengan ikan atau daging ayam.

Tollo’ Pammarasan

Makanan ini mirip rawon, namun lebih kental. Selain bubuk kluwak, daging buah dari kluwak juga dipakai. Isiannya bisa menggunakan daging babi atau ikan segar. Rasanya enak, apalagi dengan tambahan cabe yang banyak. Lemak dari babi menambah kegurihan makanan ini.

sumber : visit toraja

Tollo’ Lendong

Makanan ini mirip dengan Tollo’ pammarasan, tapi bahan utamanya adalah lendong atau dalam bahasa Indonesia disebut belut. Cara memasaknya hampir sama. Untuk belutnya sendiri, sebelum dicampurkan dengan kluwak, harus dibakar terlebih dahulu untuk mengilangkan lendir dan menambah aroma. Continue reading “Toraja Culinary”