Stress

Stress mungkin sudah menjadi bagian hidup dari manusia sebagai makhluk yang tidak sempurna. Penyebabnya bisa bermacam-macam, mulai dari karena diputusin pacar, kehabisan uang, atau kehilangan pekerjaan. Stress sendiri bisa sangat berat atau hanya berdampak sesaat. Stress berat bisa menjadi momen yang dianggap sebagai titik terendah dalam hidup. Jika stress sudah membuat seseorang kehilangan harapan atau putus asa.

Entah mulai dari kapan gw merasakan stress pertama kali, yang gw anggap sebagai momem-momen penting dalam perjalanan hidup gw. Mungkin ketika mencuri mangga tetangga sebelah terus gw gak keluar rumah seharian. haha. Tapi gw mau menuliskan momen-momen stress yang akhirnya memberikan gw pembelajaran yang berarti.

Pertama ketika kelas 6 SD, saat ujian akhir Nasional. Waktu SD gw termasuk siswa yang berprestasi, puncaknya ketika gw bisa mewakili provinsi SulSel di lomba mata pelajaran IPA. Tentu saja pamor gw naik dan pride gw juga tinggi. Singkat cerita, ketika menunggu hasil ujian Nasional, gw sudah tau kalau hasilnya tidak akan bagus karena banyak jawaban yang salah. Gw mulai stress disitu, gw gak bisa tidur. “Mau ditaruh dimana muka gw”. Ternyata gw hanya peringkat 6 di sekolah. Stress itu berlanjut ketika masuk SMP gw juga hanya peringkat 6 dari semua siswa yang mendaftar. Dari situ gw mulai belajar ‘menerima kekalahan‘.

Kedua adalah ketika SMP. Waktu itu gw sangat aktif di kegiatan Pramuka, sampai gw menjadi Pinru dan menjadi senior yang ditugaskan untuk mengatur junior-junior. Suatu saat gw membuat kegiatan tramping/hiking sebagai ujian kelulusan Tanda Kecakapan. Di akhir acara, kami berkumpul di sebuah tempat untuk test terakhir. Gw memerintahkan seorang putri untuk berlari mengambil sesuatu. Namun sialnya dia terjatuh, dan kepalanya bocor. Saat itu dunia serasa runtuh, mata gw berkunang-kunang :D. Untung gw masih bisa sadar untuk membawanya ke rumah sakit. Sialnya, putri tersebut adalah anak dari guru BP yang terkenal sangar di sekolah. Keesokan paginya, gw bersama tim disuruh berdiri dilapangan dan diberikan ceramah. Untuk putri tersebut tidak buta karena lukanya dekat dengan alis. Gw belajar ‘tanggung jawab’ saat itu.

Ketika lulus SMA, gw tidak lulus SPMB. Sekali lagi pride gw diuji. Seorang murid yang selalu juara di sekolah tidak lulus SPMB. Kalau yang ini stress nya bertahan lama, sampai setahun. Gw harus menahan malu dan juga harus ikut kuliah di universitas yang tidak terlalu bagus. Perasaan gw selalu gundah karena merasa gw masih bisa jauh lebih baik dari ini, gw harus sekolah di tempat yang orangnya ‘setara’ dengan gw. Sombong sih :D. Tapi karena perasaan ‘tidak puas’ itu yang mengantarkan gw ke ITB, kampus idaman gw. Padahal selama persiapan SPMB kedua, orang-orang tidak mendukung gw, mereka mengatakan kamu tidak akan lolos, saingannya berat. Tapi gw berhasil membuktikan gw bisa. Disitu gw diajar arti sebuah ‘kesabaran’.

Ketika kuliah, stress karena pelajaran mungkin sudah wajar yah. Teman-teman gw di kelas pintar-pintar semua. Pelajaran yang gw terima di SMA levelnya tertinggal jauh. Bahkan teman-teman gw masih bisa tertidur di dalam kelas, tapi ketika UAS, nilai mereka A. Sedangkan gw harus mengerahkan usaha yang lebih. hehe.. Stress sesungguhnya yang gw rasakan malah ketika terlibat di unit kegiatan mahasiswa. Dua kali gw merasakan stress, pertama adalah ketika Unit kami mengalami kerugian besar di salah satu kegiatan tingkat internasional yang diadakan pengurus sebelumnya. Gw harus merasakan bagaimana dikejar-kejar vendor, dipanggil pihak kampus, dicaci oleh alumni, pengurus-pengurus dibawah gw yang tidak kompak, harus mengambil keputusan yang sangat penting untuk menentukan perjalanan unit kedepannya. Dari semua itu mungkin gw dianggap sebagai ketua yang paling ‘labil’ sepanjang sejarah. Hehe. Disini gw belajar pentingnya ‘koordinasi’ ,  ‘kepemimpinan’ , ‘wibawa’, ‘pendirian’, ‘relasi’.

Tahun terakhir di kampus gw masih harus berurusan dengan Tugas Akhir. Gw sempat ganti judul dan mendapatkan topik yang cukup menantang karena harus membantu dosen yang sedang mengambil gelar doktor di Belanda. Topik tugas akhir gw diambil dari salah satu sub bab disertasi beliau. Ternyata setelah gw lakukan penelitian dan percobaan, module yang gw buat tidak mungkin dibuat di Indonesia karena keterbatasan alat. Jika dipaksakan untuk dibuat di belanda, gw baru lulus bertahun-tahun berikutnya karena harus topiknya pasti berkembang. Akhirnya diputuskan untuk menyederhanakan batasan permasalahan gw. Nah, ketika gw sudah hampir selesai mengerjakan TA, datanglah musibah berikutnya. Waktu itu gw menjadi salah satu tim pencarian dana untuk kegiatan Unit. Sialnya, selama penyebaran proposal dana, ada oknum yang memanfaatkan proposal tersebut. Jadi dia memalsukan tanda tangan rektor. Bodohnya, proposal itu kembali ditujukan ke kantor kampus. Tentu saja orang di kantor curiga. Akhirnya gw dipanggil oleh pihak kemahasiswaan. Gw diancam akan dipecat.

“Wah, kamu bisa dikeluarkan dari kampus secara tidak terhormat kalau begini”.

Gila kannn, udah mau selesai tapi malah dikeluarkan dengan tidak terhormat. Harus bilang apa ke orang tua. Saat itu gw benar-benar pasrah. Gw gak bisa tidur beberapa hari, selalu takut ketika mendengar hp gw berbunyi, apakah itu dari kantor kehormatan kemahhasiswaan. Kalau diceritakan detail, dramanya benar-benar menyakitkan. haha. Tapi akhirnya gw tidak jadi dikeluarkan karena bantuan seorang dosen yang bisa menjelaskan duduk perkaranya dengan jelas. Sebenarnya kejadian ini tidak akan terjadi jika salah ‘seorang’ anggota kami tidak memanggil oknum yang melakukan kebodohan itu. Dari kejadian ini gw belajar untuk ‘tenang’.

Yang terakhir adalah ketika gw keluar dari pekerjaan gw yang pertama. Bodohnya adalah gw keluar ketika gw belum tau mau kerja apa berikutnya. Gw harus mulai dari awal lagi, ikut job fair dan melamar sana sini. Ternyata tidak semulus yang gw bayangkan. Gw harus menjadi pengangguran selama 4-5 bulan. Selama masa penantian itu, gw sudah pasrah akan mengambil pekerjaan apapun yang menerima gw. Jual murah. haha. Tapi untungnya gw masih bisa menahan-nahan sampai akhirnya sampai akhirnya Tuhan memberikan pekerjaan yang baik.  Yang paling gokil adalah saat itu gw diterima di salah satu perusahaan baja dari Korea, bukan krakatu posco yah, tapi gw tolak karena gajinya kecil. haha. oh iya, gw juga dichallenge untuk bisa minum soju bersama klien nantinya. haha. keputusan yang gw syukuri. Nah, gw makin mengerti akan artinya ‘kesabaran’. Jangan terburu-buru memutuskan sesuatu.

Terus setelah itu tidak stress lagi? Tentu saja masih berlanjut, tapi gw masih menunggu jawabannya. haha. dan akhirnya bisa menyimpulkan apa yang harus gw pelajari.

 

Leave a Reply