Media dan kasus Jessica – Mirna

Gak di grup WA, di rumah pun pas lagi pulang cuti, yang dibahas pasti kasus Jessica-Mirna. Kasus ini sepertinya memang jadi trending topic di negri ini. Tiap sidang pasti disiarkan langsung oleh minimal dua stasiun TV. Seperti kejadian luar biasa, mengalahkan peristiwa banjir atau kebakaran yang saat ini juga sedang terjadi.

Semua berawal dari peristiwa di Cafe Olivier Grand Indonesia. Jessica dan Mirna berada di TKP di saat bersamaan, dimana Mirna sebagai korban. Banyak pihak terutama masyarakat meyakini kalau Jessica adalah pelakunya. Mama saya aja ngotot kalau lagi nonton sidang, “Kenapa gak langsung dipenjara aja?”

Mungkin sebagai masyarakat awam, kita mudah tergiring oleh media yang kadang-kadang tidak menyajikan semua fakta yang ada. Ujung-ujungnya membentuk opini publik. Namun opini publik ini belum tentu salah juga, bisa jadi kebenaran tercermin di opini tersebut. Continue reading “Media dan kasus Jessica – Mirna”

Toleransi? Lihatlah di Toraja

Salah satu topik yang menjadi pusat perhatian masyarakat dan isue yang sangat sexy untuk di-blow up  media : Toleransi.

Hampir setiap bulan kita mendengar berita yang mencederai toleransi di negri ini, disamping kasus Jessica yang belum kelar-kelar. Mulai dari pembakaran Wihara sampai penyerangan sejumlah oknum ke sebuah Gereja. Masyarakaat mulai mempertanyakan, pakah di negri ini masih ada toleransi antar umat beragama?

Indonesia selalu [mengaku] bangga akan tolerasi beragama yang dijunjung tinggi. Namun bagi saya sendiri itu hanyalah sebuah fatamorgana. Mungkin toleransi di negeri ini jauh lebih baik dibandingkan dengan di negeri lain. [Mungkin!]. Tapi dari beberapa negeri yang pernah saya kunjungi, toleransi mereka jauh lebih baik dibandingkan negeri ini. Ironisnya negeri itu tidak beragama. #sigh.

Kembali ke topik. Contoh yang sangat jelas mengenai tolerasi beragama adalah kebebasan untuk melaksanakan ibadah. Terus terang di tulisan ini saya akan menulisakan friksi antara kaum mayoritas (Muslim) dan minoritas (non muslim) dimana kaum mayoritas memiliki ‘keleluasaan’ untuk membatasi sang minoritas. Kenapa? Karena itu yang saya saksikan. Continue reading “Toleransi? Lihatlah di Toraja”

Lyfe!

ah, my last post was three months ago..

Where have I been? I’m still here, in-the-middle-of-no-where, Tembagapura. In the last three months, I really enjoy my life as traveller. On may I had a vacation to South Korea, with two friends. I have not made a post about it, too busy arranging the next itinerary :D. I will launch it soon!. And on may I went to Bali with my sister and my cousin.

IMG_3270 (Large)

About works? hmm.. I think I made a progress that my mentor trust me to continue his project. Well, its not that complicated, but still a great chance to improve my skill. I hope I can explore more. Its depends on the freeport timeline that always delayed -.-

One thing that I really enjoy about this place, as I told before, the scenery! I can go hike with my friends every Sunday, if the weather is good. I have a list of place that I want to explore with my camera. Continue reading “Lyfe!”

Ketika rakyat ingin memilih pemimpinnya sendiri

Ahok, sebuah gebrakan yang luar biasa di kancah perpolitikan Indonesia. Gebrakan ini tentu saja tidak terjadi begitu saja, tapi dimulai ketika pemilihan umum untuk presiden periode 2014-2015 ketika Jokowi akhirnya memutuskan utuk maju sebagai calon presiden.

Sebelumnya, Ahok dan Jokowi tidak terlalu memliki popularitas yang tinggi ketika mereka mencalonkan diri menjadi orang nomor satu dan dua di Jakarta. Entah bagaimana mereka bisa memenangi pertarugan melawan gubernur sebelumnya. Namun hal itu berubah ketika mereka berhasil membawa perubahan sedikit demi sedikit pada wajah Jakarta yang sudah di tahap memprihatinkan. Mereka menggebrak budaya-budaya kotor yang sudah mengakar di system pemerintahan, sampai memperbaiki tata kota. Dari situ masyarakat melihat bahwa masih ada orang yang benar-benar ingin memperbaiki Jakarta dengan cara yang lebih bersih.

Ketika Jokowi menjadi calon presiden, banyak dukungan yang dieroleh dari seluruh penjuru negri ini. Mereka melihat sosok yang tepat untuk membangun negri ini, bahakan ada yang mengatakan Jokowi adalah titisan ‘sesuatu’ setelah beberapa ratus tahun, dan kita harus memanfaatkan momen ini. Perjalanan Jokowi tentu saja tidak semulus popularitas yang diterimanya, banyak juga yang berusaha menghalangi, terutama politikus yang merasa terancam. Namun sekali lagi, dukungan masyarakat sangat mengambil peranan penting. Saya ingat ketika hari pemilihan, banyak anak muda yang sebelumnya apatis, termasuk saya, rela untuk mengurus surat ke kelurahan agar bisa ikut memilih di tempat perantauan. Continue reading “Ketika rakyat ingin memilih pemimpinnya sendiri”

Toraja or Brazil ?

Everyone knows the statue of Christ The Redeemer in Brazil. It is a popular tourist destination in South America, especially for Christian people. And now, we have it also in Toraja. Its called Christ The King. The height is taller than the one in Brazil. It was built two years ago and it almost finish now.

IMG_1113
Waiting for Sunrise

I have been there several time to take picture from above. This morning, ramdomly I decided to climb again. It was a perfect moment because the mountain is covered by the mist and cloud. I went there by motorcylce. The road is better than before. It took about 30 minutes from my home. Continue reading “Toraja or Brazil ?”

Chitato Rasa Indomie

Jadi semenjak gw diungsikan ke tempat terpencil, banyak hal-hal kekinian yang gw lewatkan. Biasanya gw termasuk orang yang paling update. 8-)

Sebut saja film-film terbaru, entah sudah berapa judul film yang gw lewatkan. Di Tembagapura sana akses untuk nonton sangatlah terbatas, hanya bermodalkan copian film dari teman atau nonton dari HBO. Kalau mau download tentu saja harus berkorban quota internet yang jatah cuma 8GB.

Trus akhir-akhir ini lagi heboh tentang varian baru dari kripik yang legendaris itu, Chitato. Mereka mengeluarkan varian baru dengan rasa Indomie. Emang tak terbantahkan lagi, Indomie memiliki ikatan batin yang erat dengan rakyat terutama mahasiswa yang pernah merasakan kehabisan uang.

Kebetulan pas liburan kemarin di Bulukumba, gw nemuin di Indomaret. Tinggal 2 bungkus, sepertinya laku keras. Tanpa pikir panjang gw langsung ambil trus cuss ke kasir buat bayar. Continue reading “Chitato Rasa Indomie”

Tanjung Bira, Bulukumba

I spent my first week of my vacation this time at Bulukumba, visiting Bara beach. It supposed to be in January, but after having discussion with hostel owner, Jordan, he recommended me to come on March. He was true, this month is the best time to enjoy the beach, no rain and cloudy sky.

 IMG_1060

After landed in Makassar, I stayed at really cheap hostel at Panakkukang. It was only 75K with great facility and breakfast. #heaven. Haha. It is Makassar Guest House. If you want to stay at makassar for couples of day, this hostel can be one of your choice. Located in the central of makassar.

On the next day, I went to Malengkeri Terminal to catch my ‘bus’ to bulukumba. I was lucky because as I arrived there, a ‘bus’ just want to depart. On that ‘bus’ I met Isabele and Julia, and they become my travel mate for two days. Continue reading “Tanjung Bira, Bulukumba”