fountain pen

.: Quill :.

jadi ketika ngumpul2 kemarin, teman gw membawa sebuah notebook handmade hadiah dari sebuah seminar. notebooknya keren, covernya kulit (imitasi) dan isinya kertas tebal warna ivory. jadinya kita membahas seputar notebook handmade, mulai dari jenis kertasnya sampai cara bikin sendiri. kemudian pembicaraan beralih ke pulpen untuk menulisinya. biasanya orang-orang pakai fountain pen atau quill biar terkesan klasik.

nah ngomong2 tentang fountain pen, gw pernah merasakan suka dukanya memakai pen jenis ini. jadi ketika gw masuk sd, seperti biasa anak baru masih pakai pensil. naik ke kelas dua baru diijinkan untuk pakai pulpen, itu pun caturwulan ketiga. eh, iya, waktu itu masih pakai caturwulan.

sampai suatu ketika negara api menyerang. :). maksud gw sampai suatu ketika seorang suster baru datang. jadi sd gw itu dikelola oleh suster biara dari ordo JMJ. namanya suster maria. waktu itu dia ditugaskan untuk mengajar kelas IIC, gw sudah kelas III. suster maria mewajibkan murid2nya untuk mengganti pulpennya dengan fountain pen. waktu itu kami menyebutnya pulpen tinta.

.: fountain pen :.

dari situ suster kepala melihat bahwa hasilnya bagus. karena dengan menggunakan pulpen itu, tulisan bocah2 IIC itu jadi bagus. akhirnya seluruh murid di sd gw disuruh pakai pulpen tinta.

awalnya tidak semudah membalik telapak tangan. perlu adaptasi memakai pulpen tersebut. bayangkan aja bocah2 lucu seperti kami disuruh pakai fountain pen yang biasanya dipakai direktur2 untuk tanda tangan. wew.. jadi pemandangan dimana sehabis sekolah tangan anak2 berlumuran tinta, kantong baju ternoda dengan tinta yang bocor, tas sekolah yang berubah jadi hitam karena ketumpahan tinta sudah menjadi pemandangan yang wajar di sekolah itu.

saking tegasnya, jika suster melihat murid memakai pulpen biasa, pulpennya akan dipatahkan. seperti jika kita tidak memakai sepatu hitam dan kaos kaki putih, maka sepatu/kaos kita akan disita. kejamm…

jadi tiap hari selain membawa buku, pensil, fountain pen, hal yang wajib dibawa ialah sebotol tinta dan secarik kain. kebayang gak sih kalau misalnya lagi menulis/mengarang atau lagi ujian kita kehabisan tinta. kita harus membongkar pulpen tersebut kemudian ujungnya dicelupkan ke botol berisi tinta kemudian mulai memompa agar tintanya masuk ke pen. agar sisa tinta yang menempel di pulpen tidak meluber, kita menggunakan kain tadi untuk melap. kadang-kadang ketika lagi menulis, tiba2 pulpennya bocor, lap sangat berguna. jadi kadang 2 minggu kita harus ganti lap karena sudah penuh dengan tinta. bayang kan anak sd pakai fountain pen, pasti belepotan.

biar hasilnya bagus, biasanya merk tertentu diberlakukan. waktu itu yang paling terkenal adalah merk parker. kadang kita memotong ujung/nib pulpen tersebut untuk menghasilkan efek tulisan tipis tebal. bayangkan aja tulisan kaligrafi yang tipis tebal. teknik memotongnya juga tidak sembarangan, klo salah bisa2 harus beli baru. waktu sd kan jamannya banget menulis indah.

namun efek dari penggunaan pulpen tersebut, sd gw terkenal dengan tulisannya yang indah dan rapih :). gw penasaran, apakah sd gw masih menerapkan peraturan itu? hmm…

2 thoughts on “fountain pen

  1. Bisa dijelasin lg cra ngisi tintanya yg lbih detail? Saya baru beli fountain pen.. apa memang kdg harus d kibaskan pennya ketika tinta di mata pena sudah abis? Atau fountain pen saya yg kurang bagus jd tidak mengalir dgn lancar dr cartridge nya?

    1. Hi Lyn,
      kalau mengisi tinta cukup celupkan ujung mata pulpen ke botol tinta, kemudian pompa.

      APakah pulpennya pernah jatuh? biasanya kalau jatuh akan menyebabkan ujung mata pulpen bengkok sehingga tinta tidak keluar dengan lancar.

Leave a Reply