Flood and Fantasy

Pagi ini gw bangun seperti biasa, jam 7.15. Tampak di luar sana hujan turun dengan derasnya. Kedinginan karena AC yang lupa gw atur agar mati otomatis, membuat diri ini untuk beranjak dari tempat tidur. Tiba-tiba gw teringat kalau gw sudah membuat janji untuk bertemu klien hari ini jam 9.00 di kantor dia. Gw kemudian menghubungi teman untuk menanyakan apakah ada engineer yang bisa menemani gw, karena partner gw gak bisa masuk hari ini. Dia menyarankan gw untuk menanyakan ke spok. Gw menuju jendela untuk melihat jalan depan kost, biasanya kalau hujan deras pertigaan di ujung jalan sering tergenang air. Dan benar saja air sudah mulai naik melebihi perkiraan gw. Banjir!.

Aku membuka mata pagi itu dan mendapatkan suasana sekelilingku dingin dan berkabut. Aku terdampar di sebuah pulau. Pulau kecil yang dikelilingi oleh lautan. Pikiranku masih belum sadar sepenuhnya ketika aku melihat tak jauh dari tempatku, ada beberapa pulau kecil lain yang dihuni oleh orang-orang asing. Aku ingat, kami sebelumnya menumpangi kapal yang sama dan kemudian tenggelam karena badai yang sangat dahsyat, dan kami terhempas ke pulau-pulau kecil ini. Aku berjalan disekitar pulau itu, berharap mendapatkan sesuatu yang berguna. Aku mendapati beberapa barang yang ikut terdampar. Mataku tertuju pada sebuah buku dan pensil. Apa yang dapat aku perbuat dengan benda ini?

Gw masih berharap hujan segera reda dan air surut. Gw menunggu sampai jam 8.00 tapi tidak ada perubahan. Air malah semakin naik dan tepat di depan kost gw air sudah sampai mata kaki. Gw melihat di grup whatsapp kalau manager dan teman gw yang lain juga kejebak banjir. Jalur kereta ditutup sehingga banyak yang tidak bisa beranjak dari stasiun. Keadaan mulai memburuk karena saat itu ada meeting yang sangat penting yang harus dihadiri manager dan teman gw. Kami tetap saling memberikan update mengenai kondisi kami masing-masing. Gw kemudian menghubungi klien gw untuk reschedule jam 13.00 atau besok pagi dengan alasan akses yang susah. Dan dia setuju.

Keadaan Jakarta benar-benar sudah gawat. Gw update informasi dari twitter dan berita online uga dari info teman-teman. Di berbagai tempat air mulai meninggi sampai dada orang dewasa. Banyak orang terjebak di jalanan dan di kantor. Banyak mobil-mobil yang terendam air. Air depan kost gw sudah mencapai pinggang orang dewasa. Dari kejauhan gw melihat warga mulai mengungsi, penduduk setempat yang memiliki rumah hanya satu lantai. Perahu karet mulai masuk lorong2 untuk membatu warga menyelamatkan diri. Penghuni lantai satu kost gw juga mulai meninggalkan kost. Teman sebelah kamar gw malah nekat menembus banjir untuk pergi ke kantor. Dia bilang ada keperluan penting.

Hujan reda dan turun secara bergantian, tidak ada tanda-tanda akan surutnya air. HR kantor mulai menghubungi semua karyawan untuk tetap tinggal di rumah atau yang sudah di kantor agar nantinya segera pulang jika situasi mulai membaik. teman gw di kantor memberikan foto-foto banjir di kawasan bundaran HI dan sekitaran sudirman. Lalulintas macet total. Bus transjakarta tidakberoperasi. Jakarta Lumpuh.

Tampak di kejauhan orang-orang mulai berbenah dengan apa yang mereka miliki saat itu. Mereka menggunakan barang-barang yang ada disekitar mereka, membuat tenda dari terpal untuk berlindung. Aku beruntung di pulau itu ada sebatang pohon yang cukup rindang untuk berteduh. Di tempat lain, terlihat beberapa orang berusaha untuk menyebrang ke pulau terdekat untuk memperoleh bantuan. Tampaknya mereka benar-benar dalam keadaan kritis.

Kelaparan mulai menghampiri, gw tidak ada stok makanan sama sekali. Sehari sebelumnya gw sempat berpikir untuk membeli bahan makanan sebagai persiapan, tapi bukan untuk banjir. Penyesalan datang terakhir. Karena tidak ada makanan, teman2 kost sudah pada keluar tadi pagi, hanya gw sendiri, gw memutuskan untuk menerjang banjir. Saat itu hujan sudah redah. Gw menuju lantai bawah yang sudah tergenang air. Tampak penghuni kost di seberang mulai pada keluar sambil membawa hp untuk mengambil gambar keadaan saat itu.

Gw membuka gerbang, dan terhamparlah lautan luas di depan gw, walaupun airnya kecoklatan. Saat melangkahkan kaki dan menginjak dasar, air sudah sampai di pinggang gw. rasanya seperti masuk ke kolam renaang. Saat itu gw tidak memakai sandal karena takut terbawa air. Gw menuju bagian belakang kompleks yang letaknya lebih tinggi, berharap bisa menemukan daerah kering dan makanan. Beberapa saat kemudian setelah berjalan cukup jauh, gw menemukan daerah kering, dan penjual gado-gado. thanks God. tanpa pikir panjang gw langsung memesan satu porsi. Terharu banget saat gw mulai makan. Ternyata begini rasanya, pikiran gw melayang ke para pengungsi yang kesusahan mencari makan.

Setelah makan, gw mencari minimarket untuk persediaan makanan, tapi ternyata tidak ada. Di jalan utama ada minimarket tapi gw gak yakin buka dan gw juga harus menerjang banjir yang cukup dalam. akhirnya gw pulang ke kost dengan tangan kosong, berharap nanti malam air sudah surut.

Lapar pun datang. Di pulau itu tidak ada yang dapat mengganjal perut ini untuk sementara. Aku harus mencari di tempat lain. Namun dimana? Tiba-tiba mata gw tertuju pada sebuah karang. Di karang tersebut tersangkut sebuah peti bahan makanan. Namun untuk menuju kesana harus melewati air yang cukup dalam. Dengan keberanian yang tersisa aku menepis perasaan takur dan mulai berenang menuju karang itu. Akhirnya gw bisa makan untuk sekali. Berikutnya tidak aku pikirkan, yang penting aku bisa bertahan siang itu.

Di kost gw menghabiskan waktu untuk browsing berita-berita terbaru. Jakarta benar-benar sedang dilanda bencana. Tiba-tiba lampu padam. Saat itu gw belum kuatir, berharap lampu segera hidup lagi. Sejam kemudian gw mulai berpikir, bagaimana kalau listrik tidak hidup lagi, gw akan terputus komunikasi. Gw langsung mematikan hp gw yang satu, demikian juga dengan laptop. Dan benar saja, sampai sore listrik tidak berfungsi. Untung battery laptop masih cukup untuk mengisi battere handphone. Jadilah laptop sebagai powerbank saat itu. Gw tetap mengupdate keadaan gw ke manager dan juga keluarga.

Langit pun mulai gelap, air belum surut cenderung stabil. Saat itu jam 6.30pm. Gw berpikir lagi, kalau gw tidak keluar sekarang, gw akan kesusahan mencari makan nantinya, mumpung masih belum benar-benar gelap, gw harus bergerak. Karna dari tadi pagi belum mandi, gw akhirnya mandi walaupun gw tau akan kotor lagi karena menerjang banjir. setelah selesai, gw angsung menuju lorong.

Semakin mendekati jalan utama, air semakin tinggi. Ketika masuk jalan utama, suasana berubah drastis, tampak jalanan seperti suangai dengan arus yang deras. Gw dengan susah payah menerjang arus. Ini benar-benar seperti sungai. Butuh waktu yang lama sampai gw mendapatkan seven eleven yang tetap buka. Gedung seven eleven lebih tinggi dari yang lain jadi tidak terkena dampak banjir.

Sevel dipenuhi banyak orang yang mencari stok makanan. Bahkan terlihat saling berebutan. Wah, saat urusan perut sudah menagih, akal pun mulai ngaco. Tanpa pikir panjang gw langsung mengambil makanan dan memansinya di microwave. Sekali lagi, butuh perjuangan untuk mencari makan. Ternyata tidak hanya oarang kelaparan saja yang menhampiri sevel, mereka yang butuh listri pun banyak. mereka mengisi battere mereka di sevel. Setelah makan gw mengambil bahan makanan yang tersisa untuk persiapan, biskuit, roti, dan air minum. Satu lagi yang penting, cahaya. Gw menuju tempat peralatan rumah, dan menemukan ada satu senter tersisa. Beruntung!. Jadilah gw pulang menysuri sungai dengan sebuah senter di tengah gelapnya malam.

Senja pun tiba, langit mulai gelap. Aku mulai kuatir mengenai keselamatanku malam nanti. tidak ada makanan untuk malam itu. Cahaya pun tidak ada. Tiba-tiba gw mendengar seruan dari pulau terdekat, ternyata kapal yang kami tumpangi karam tak jauh dari situ. Mereka mengatakan bahwa ada bahan makanan yang tersisa disitu, namun harus bergegas karena kapal tersebut akan segera tenggelam sepenuhnya akibat ombak yang makin ganas. Jika aku tidak mencoba untuk mencapai kapal tersebut, nasib gw tidak akan jauh beda jika aku tetap bertahan disini. Dengan tenaga yang tersisa aku berenang melawan arus dan ombak menuju kapal tersebut. Ternyata kapal tersebut sudah mau tenggelam, bahan makanan yang tersisa tidaklah banyak. Namun setidaknya ada yang bisa dimakan untuk bertahan hidup entah sampai kapan. Sebelum meninggalkan kapal, aku sempat mengambil sebatang lilin yang tergeletak di ujung lantai. Aku kembali ke pulauku.

Gw sendirian di kost, tidak ada tanda2 kehidupan selain gw. Sepertinya teman-teman yang lain sudah tidak bisa pulang jadi menginap di tempat lain. Hanya sebuah senter yang jadi penerangan malam itu. Gw duduk di pinggir jendela, melihat keadaan diluar, tidak ada siapa2, masing2 terkurung dalam rumah masing-masing. Gw memandang gedung tinggi dari kejauhan, pemandangan yang indah namun kontras dengan keadaan sekarang. Cahaya dari gedung-gedung itu tampak seperti bintang-bintang. *melow time. Langit terlihat bersih yang kemudian mulai ditutupi oleh kabut. Pemandangan yang sangat jarang untuk dinikmati. Terdengar suara helikopter yang lalulalang memberikan bantuan kepada para pengungsi. Sampai akhirnya gw tertidur dan bangun keesokan paginya.

Dengan sebatang lilin itu, aku menghabiskan malam sambil menatap langit yang begitu indah. Bintang-bintang seolah menghibur aku. Apakah ini akan menjadi pemandanganku yang terakhir? Entahlah. Sampai kahirnya aku tertidur.

Air mulai surut, walaupun belum benar-benar kering. Gw mendapat kabar dari kantor jika tidak ada kegiatan penting tidak usah masuk. Namun gw sudah janji dengan klien kalau akan bertemu siang ini. Ketika ingin mandi, ternyata air tidak ada. Air PDAM dan pompa tidak mengalir. Jadilah gw membersihkan diri dengan air botl yang gw beli sebelumnya. setelah berpakaian rapih, sambil membawa payung dan sepatu dalam kantong plastik, gw menuju jalan sudirman. Perjuangan yang tidak mudah, air masih sebatas betis. Celana harus digulung agar tidak basah. Gw menuju kantor dengan bis, namun ditengah jalan harus diturunkan karena tidak bisa melewati daerah tosai karena kemacetan akibat gedung UOB yang kebanjiran di bagian basement. Air harus dipompa keluar untuk menyelamatkan orang yang terjebak didalam. Jadinya gw jalan ke kantor.

Sebelum matahari menampakkan dirinya, aku dibangunkan oleh suara yang datang dari jauh. Ternyata ada beberapa kapal nelayan yang lewat. Mereka menyelamatkan kami dan membawa kami ke daratan.

Singkat cerita ketika pulang dari kantor, listrik belum nyala dan air belum mengalir. Akhirnya gw ‘mengusngsi’ ke bandung untuk sehari. hehe.

 

3 thoughts on “Flood and Fantasy

  1. wah mirip ama pengalamanku hahaha. pertama kali dtg ke jakarta bln januari 2013 lgs disambut banjir,,,bener2 shock saat itu, kug jakarta segitunya bgt,,,cari makanan susah, dmn2 warung tutup, indomie di supermarket juga udah ludes,,,mau ngungsi eh busway ama krl nggak beroperasi,,,wah parah bgt deh,,,

    btw anak katedral jg? aq kl misa di katedral jg mgg pagi,,,

    1. rencana sih gitu kalau Tuhan menghendaki,,,eh fbmu apa? atawa add fb-ku deh di blog-ku ada,,,,thanks

Leave a Reply