When You Get Your Story Published On The News

Another first-time, my story is published on the newspaper.

Its a perk having some friends on another field of work. You can get other experience. So, regarding to my last trip to Sweden, I wrote an article on my photoblog.

And then I remember Anita, my friend from highschool. She works as an editor in a big newspaper in East of Indonesia. I tell her that I have a story that maybe can be published on her news. She said “off course!”.

After some editing here and there, two days ago she informed me that my story has been launched on the online news. Check the link here. And soon will be published on printed version.

How glad I am..

And finally, the printed one is here. 3/4 pages with my photos. Muahahaha..

Why Do I Travel Alone, A Lot ?

Tiga tahun lalu, saya mengukuhkan predikat saya sebagai orang yang suka solo-travelling. Ketika itu saya melakukan perjalanan yang saya sebut South East Asia Trip, dimana saya mengunjungi 5 negara di Asia Tenggara, Malaysia, Thailand, Kamboja, Vietnam, dan Singapura. Walaupun tidak lengkap, tapi demi menambah kesan dramatisnya, saya menamainya demikian.

Beberapa tahun kemudian, saya menambah perbendaharaan solo-travelling saya, baik domestik maupun luar negeri. Tapi bukan berarti saya selalu pergi sendiri, jika ada teman yang asik dan tujuan yang oke, saya tentu saja ikut liburan barengan.

Karena kebiasaan tersebut, ada beberapa pertanyaan yang sering muncul dari teman-teman saya.

Kamu tidak takut pergi sendirian? 

Saya termasuk orang yang nekat untuk masalah travelling. Kekhawatiran tentu saja ada, tapi selalu lenyap ketika saya sudah sampai di tempat itu. Sejak SMP saya sudah belajar untuk jauh dari rumah dan merantau di daerah orang, jadi saya sudah terbiasa dengan orang asing. Untuk transportasi, asal tujuan jelas dan ada kendaraan umum, pasti saya akan kunjungi.

Tidak takut tersesat?

Jaman sekarang sepertinya kata ‘tersesat’ sudah bukan menjadi kamus dalam perjalanan generasi millenial. Dengan smartphone, kita bisa menyusuri gang-gang sempit kota-kota di seluruh dunia. Kalaupun daerah itu belum masuk ke google maps, kita bisa bertanya ke penduduk setempat. Easy!

Kamu menginap dimana?

Ketika penghasilan saya masih pas-pasan, sekarang juga masih pas-pasan sih, saya selalu mencari penginapan yang paling murah. Saya sering menginap di hostel-hostel paling murah, yang isinya bisa sampai 16 orang. Saya juga pernah menginap di ruangan yang campur antara cowok dan cewek. Untuk mencari penginapan, saya selalu membandingkan harga di hostel.com, booking.com, pegi2.com, dll. Kadang-kadang ketika saya ingin sedikit agak mewah, saya menginap di Hotel. Tentu saja dengan harga yang masih murah. :D

Rasanya tidur sekamar dengan orang lain?

Tentu saja privasi semakin terbatas. Tergantung dari model hostel yang dipilih. Ada yang benar-benar terbuka antara bed satu dengan yang lain, ada juga yang memiliki penyekat. Saya sangat concern dengan privasi, jadi ketika harus menginap di hostel, saya harus mengorbankan ‘kenyamanan’ itu. Hehe. Satu hal yang saya paling harapkan sebelum masuk hostel adalah, saya tidak sekamar dengan orang yang ngorok. Its a nightmare for me. Pernah ketika di Oslo, Norwegia, saya sekamar dengan teman yang ngoroknya luar biasa. Hasilnya saya tidak bisa tidur sampai pagi.

Ada pengalaman menarik menginap di hostel?

Banyak. Di Stockholm pernah saya harus ‘mencuri’ pasta gigi teman sekamar karena tidak bawa. *ups sorry. Terus ketemu room-mate yang berisik, ini hampir di setiap hostel. Di Bangkok ketemu orang yang tidurnya telanjang dengan santainya, padahal itu adalah mixed room. Masih di Bangkok, saya pernah (tidak sengaja) mandi di bathroom yang harusnya buat cewek, trus kedapatan pemiliknya. *untung gak diusir. Kemudian pernah ‘dilecehkan’ oleh sekumpulan cewek-cewek yang mabok di Phuket. Saya sendirian di kamar yang penuh cewek. Haha. Di Denmark pernah suatu pagi mendapat surat cinta dari cewek di seberang tempat tidur, padahal harusnya buat cowok Jepang yang tidur dibawah saya. *setelah saya konfirmasi beberapa bulan setelahnya via email di surat itu.

Tapi dari semua itu yang paling menarik adalah ketemu dengan orang-orang dengan latar belakang yang berbeda. Bisa berbagi cerita.

Berapa lama persiapan sebelum berangkat?

Untuk perjalanan jauh, misalnya ke luar negri, saya pasti mempersiapkannya beberapa bulan sebelumnya. Tentu saja ini berkaitan dengan tiket pesawat. Biasanya tiket promo adanya setahun atau 6 bulan sebelum berangkat. Jadi kadang itinerarynya harus disesuaikan dengan jadwal tiketnya.

Style travelling kamu?

Awalnya saya suka dengan city travelling, dimana kita mengunjungi kota-kota yang sudah terkenal. Namun kemudian saya juga merambah ke nature travelling, misalnya hiking atau mendaki gunung.

Pernah kecopetan?

Dulu waktu ke Jogja saya pernah kecopetan di bus Transjogja. Waktu itu saya punya iPod yang baru beberapa bulan saya beli. Sialnya saya baru sadar kalau iPod saya hilang beberapa hari kemudian. Selain itu tidak ada kejadian lagi.

Hal yang menjadi hambatan selama traveling?

Pertama adalah makanan. Saya bukan orang yang suka eksplore kuliner, jika ada nasi dan lauk, itu csudah ukup. Bahkan sampai saat ini saya masi dibully oleh bos saya karena bawa beras ke Italy. Lidah saya sudah sangat Indonesia, jadi ketika mencari makanan di luar negri, agak susah. Saya pilih yang murah saja asalkan kenyang. Hehe.

Kedua adalah biaya. Jika jalan sendiri, kita tidak bisa sharing cost. Jadi semua cost ditanggung sendirian. Lumayan juga sih, tapi dengan sendirian saya bisa kemanapun saya mau. Haha.

Pernah ketinggalan pesawat?

Pernah! Ketika itu saya berangkat dari Vietnam menuju Singapura. Untungnya setelah bolak-balik hostel bandara, semuanya bisa teratasi. Problemnya adalah agen dimana saya membeli tiket tidak meneruskan info perubahan jadwal ke saya.

Selain itu ketika berangkat dari Roma ke Gothenburg, hampir ketinggalan pesawat gara-gara bandaranya penuh. Ini bukan kesalahan penumpang. Sampai akhirnya penumpang tidak harus melewati gerbang pemeriksaan, langsung menuju pesawat. >.<

Perjalanan paling nekat?

Ketika saya hiking di bagian utara Swedia. Sendirian sepanjang 120km.

Terakhir, jadi kenapa sendirian? Tidak punya teman? :D

Jadi kalau menurut tes MBTI test, saya termasuk type INFJ, the real introvert, only 1-2% of pupulation. Hehe. Saya lebih suka berjalan sendiri karena saya menemukan kenyamanan disitu. *mungkin-hanya-introvert-yang-mengerti.

Selain itu saya orangnya cukup random, jadi dengan jalan sendiri saya bisa improvisasi itinerary saya. Walupun random, saya juga ontime. Pengalaman saya ketika jalan dengan teman-teman adalah saya harus membangunkan mereka pagi-pagi dan merusak mood saya. Haha. Masalah lain ketika harus liburan rame-rame adalah menyesuaikan jadwal dan interest masing-masing. Tentu saja tidak semua anggota akan terpuaskan, jadi saya memilih pergi sendiri. Apalagi ketika ada tiket promo, dan batas waktu pemesanannya terbatas.

Tapi seperti yang saya bilang sebelumnya, kadang saya pergi dengan teman-teman dekat kok. I do have some friends loh..

 

Hiking To Kungsleden

Kungsleden – The King’s Trail

Kungsleden adalah salah satu jalur hiking terkenal di dunia, NatGeo memasukkannya ke dalam list mereka bersama dengan 15 hiking trail lainnya. Rute terpanjang dari trail ini adalah sekitar 400km yang terbentang dari Abisko (utara) ke Hemmavan (selatan). Selain rute ini, terdapat banyak jalur alteratif yang bisa dipilih, dan yang paling populer adalah jalur Abisko – Nikkaluokta dengan total jarak 104km.

“I left half of my soul in Abisko” 

Kira-kira itulah yang saya katakan tiga tahun lalu ketika mengunjungi Abiko di saat winter. Ketika itu saya berkesempatan bersama teman saya berkunjung ke Abisko, salah satu taman nasional di Swedia. Pemandangannya sangat menabjubkan, danau yang terhampar luas seperti bulu domba, membeku karena suhu yang ekstrim. Saat itulah saya meyakinkan diri saya untuk kembali ke tempat ini.

Namun kali ini saya datang ketika summer, dimana perlengkapan yang dibutuhkan tidak seperti ketika winter. Jalur yang saya ambil adalah jalur yang populer, untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan. Awalnya saya memutuskan untuk mengambil arah Nikkaluokta- Abisko, tapi kemudian saya mensyukuri keputusan saya untuk mengambil arah sebaliknya. Kenapa? Karena jalur Nikka-Abisko cenderung mendaki. :D

Visit this link for more information

Hiking To Cartenz

Last Sunday was not a good day for hike, but we made it anyway. The trip was planned two months ago before my vacation. I went with my boss and friends from church. On that rainy morning, we decided to keep moving, hoping that after several hours the weather will be okay.

We started our journey from Tembagapura to Grasberg by car. Since only one driver has license to drive thru the Heat Road, four of us should take instead. Tram is not that bad, it was fun, we can see the beautiful scenery from the high.

We reached the tram station at Grasberg aroud 6.30Am. The sky keep pouring water to the mountain. We changed the plan, we went to Cartenz Basecamp instead of Idenburg. Actually I have been at the trail to the basecamp last year, but its okay because it was too dangerous to hike to Idenburg because we the slippery road (actually it is slippery rocks). After driving about 15 minutes, we get the starting point at Zebra Wall. The rain stopped and the sky was clearer.

We passed the swamp easily, last year we have to take another route to avoid this deep swamp. Our first pos is the Blue Lake. There are three chained lake before Pintu angin. The last one is Blue Lake. We can erect the tent if we want to spend the night or just cook some light meal. My friend brought his drone to this trip, it was cool to see the video. :D

After spend our meal on blue lake, we continue to the basecamp. The track is easy but quite steep. Another challenge is the wind and the lack of oxygen. It made me really dizzy. We had to stop several time to get used with the altitude. On the way to the basecamp, we had to pass another four lakes. It was misty so we could not see the beautiful cliff on the other side. We reach the basecamp at 10 am.

The basecamp is located on 4275 meter above sea level. This is higher than my highest point before at Rinjani and Semeru. Yeay! It was quite sad to see the environment over there, there was a lot of garbage that left by campers/hikers.

I and three of my friends continued to hike little bit more, to Yellow Valley. The track to the top is really steep. More over the dizzy ever worse, we have to stop more. But our leader always support us to move step by step until we get the 4420 masl. From that point we can see the peak of Cartenz Pyramid. He told us a lot of story about the hikers, how to climb the cartenz, etc.

I hope I can have an opportunity one day, and also courage to step on the top of Cartenz Pyramid. :D

See you again , mountains!!!

Toraja or Brazil ?

Everyone knows the statue of Christ The Redeemer in Brazil. It is a popular tourist destination in South America, especially for Christian people. And now, we have it also in Toraja. Its called Christ The King. The height is taller than the one in Brazil. It was built two years ago and it almost finish now.

IMG_1113
Waiting for Sunrise

I have been there several time to take picture from above. This morning, ramdomly I decided to climb again. It was a perfect moment because the mountain is covered by the mist and cloud. I went there by motorcylce. The road is better than before. It took about 30 minutes from my home. Continue reading “Toraja or Brazil ?”

Chitato Rasa Indomie

Jadi semenjak gw diungsikan ke tempat terpencil, banyak hal-hal kekinian yang gw lewatkan. Biasanya gw termasuk orang yang paling update. 8-)

Sebut saja film-film terbaru, entah sudah berapa judul film yang gw lewatkan. Di Tembagapura sana akses untuk nonton sangatlah terbatas, hanya bermodalkan copian film dari teman atau nonton dari HBO. Kalau mau download tentu saja harus berkorban quota internet yang jatah cuma 8GB.

Trus akhir-akhir ini lagi heboh tentang varian baru dari kripik yang legendaris itu, Chitato. Mereka mengeluarkan varian baru dengan rasa Indomie. Emang tak terbantahkan lagi, Indomie memiliki ikatan batin yang erat dengan rakyat terutama mahasiswa yang pernah merasakan kehabisan uang.

Kebetulan pas liburan kemarin di Bulukumba, gw nemuin di Indomaret. Tinggal 2 bungkus, sepertinya laku keras. Tanpa pikir panjang gw langsung ambil trus cuss ke kasir buat bayar. Continue reading “Chitato Rasa Indomie”