Burake Hills Swimming Pool

Untuk melengkapi suasana sejuk cenderung dingin di Toraja, selain naik ke gunung, kita juga bisa berenang di beberapa tempat yang menyediakan kolam renang. Sebut saja Makula dengan sumber air panasnya dan Tilangnga’ dengan kolam dari alam. Selain itu ada beberapa hotel yang mempersilahkan masyarakat umum untuk menggunakan kolam renangnya.

Beberapa bulan yang lalu, sebuah kolam renang yang letaknya tepat di lembah gunung Burake dibuka untuk umum. Persisnya ada di kompleks perumahan Burake Hills. Lokasinya sangat strategis karena berdekatan dengan gerbang masuk ke wisata patung Yesus di puncak gunung Burake. Continue reading “Burake Hills Swimming Pool”

Toleransi? Lihatlah di Toraja

Salah satu topik yang menjadi pusat perhatian masyarakat dan isue yang sangat sexy untuk di-blow up  media : Toleransi.

Hampir setiap bulan kita mendengar berita yang mencederai toleransi di negri ini, disamping kasus Jessica yang belum kelar-kelar. Mulai dari pembakaran Wihara sampai penyerangan sejumlah oknum ke sebuah Gereja. Masyarakaat mulai mempertanyakan, pakah di negri ini masih ada toleransi antar umat beragama?

Indonesia selalu [mengaku] bangga akan tolerasi beragama yang dijunjung tinggi. Namun bagi saya sendiri itu hanyalah sebuah fatamorgana. Mungkin toleransi di negeri ini jauh lebih baik dibandingkan dengan di negeri lain. [Mungkin!]. Tapi dari beberapa negeri yang pernah saya kunjungi, toleransi mereka jauh lebih baik dibandingkan negeri ini. Ironisnya negeri itu tidak beragama. #sigh.

Kembali ke topik. Contoh yang sangat jelas mengenai tolerasi beragama adalah kebebasan untuk melaksanakan ibadah. Terus terang di tulisan ini saya akan menulisakan friksi antara kaum mayoritas (Muslim) dan minoritas (non muslim) dimana kaum mayoritas memiliki ‘keleluasaan’ untuk membatasi sang minoritas. Kenapa? Karena itu yang saya saksikan. Continue reading “Toleransi? Lihatlah di Toraja”

Toraja or Brazil ?

Everyone knows the statue of Christ The Redeemer in Brazil. It is a popular tourist destination in South America, especially for Christian people. And now, we have it also in Toraja. Its called Christ The King. The height is taller than the one in Brazil. It was built two years ago and it almost finish now.

IMG_1113
Waiting for Sunrise

I have been there several time to take picture from above. This morning, ramdomly I decided to climb again. It was a perfect moment because the mountain is covered by the mist and cloud. I went there by motorcylce. The road is better than before. It took about 30 minutes from my home. Continue reading “Toraja or Brazil ?”

Saturday Meet Up

I was waken up by Adrianti call today, it was 7.45am. She asked me whether I have a plan going out for today. I said that I am flexible, then she informed me that our friend, Yoan, is in the hospital now. Yoan has been hospitalized for three days. Anti asked me to accompany her and Hendri to visit Yoan.  Oh, they are my friends from Junior High school.

We met at Carolus Hospital at Salemba. It was very happy moment instead of Yoan condition, but I thinks Yoan need a laughting friends around her to cheer her up. Haha. Yes, and as the our routine meet up, laughing is at everytime, for sure it was because Hendri humor. Several minutes later, Lina and Meyske joined us. One moment that remembered me about our childhood is we always pray for our friend when we visit them. It’s really so sweet. :).

At 2pm, we decided to leave and find our lunch. Hendri asked us if we want to have our late lunch with pork. Everyone said “YES”. Haha.. Typical , torajaneese, lindo pa’piong. :P

There is a Manado Restaurant near the hospital, we can get there by angkot 01. The place is not so wah, it’s like a ordinary warung that we can find anywhere. The menu was so complete. I think all of pork recipe is offered. I choose pork satay and RW. RW is dog meat. hehe.. RW is very popular in my hometown, Toraja, besides pork. But in my opinion, RW toraja is still the best in the world. We had a long conversation and laugh. It always a good time to reminisce our nostalgic moment with old friend.

If you want to visit this restaurant, just go to jalan kramat 5 and find the warung called Tinoor Permai. Oh, the price is very cheap anyway.

Toraja Hari Ini

Sudah 10 tahun lebih gw meninggalkan kampung halaman tercita, Toraja, untuk melanjutkan studi dan mengejar cita-cita. Selama sepuluh tahun itu tentunya gw juga sering pulang untuk bertemu dengan keluarga. Selama itu pula gw merasakan banyak perubahan yang terjadi di Toraja ini. Mulai dari akses ke Toraja sendiri maupun pembangunan fasilitas-fasilitas umum di kota ini.

Dahulu, jika gw ingin pergi ke makassar atau balik ke toraja, selalu menggunakan bus kecil yang ukuran tempat duduknya lumayan sempit. Langganan keluarga gw adalah Toraja Indah. Sebuah bus dengan kapasitas 26 orang tanpa AC, haha.. Namun sekarang, bus yang ke Toraja sudah bus yang super besar dengan fasilitas wah. Mungkin hampir bisa disamakan dengan pesawat. Ruang duduk yang jauh lebih lega, fasilitas AC, toilet, dan juga Selimut yang nyaman. Mungkin jika pernah merasakan kelas business di pesat, rasanya kira-kira seperti itu. Oh iya, satu lagi adalah fasilitas wifi.

Akses kesana pun sudah lebih mulus terutama perjalanan dari Makassar ke Pare-Pare. Jalanan Trans Sulawesi ini sudah full beton, sedangkan dari Pare-Pare ke Toraja masih pakai hotmix namun mulus. Dengan demikian perjalanan lebih lancar dan nyaman.

Sejak awal, Toraja sudah dikenal dengan daerah pariwisata yang terkenal, namun karnena pengelolaan yang kurang optimal, Toraja sering disebut raksasa yang tidur. Saat ini sejumlah daerah wisata mulai berbenah, mulai dari akses Transportasi dan juga Akomodasi. Tujuan wisata yang baru pun bermunculan,  sebut saja wisata rafting, pemandangan alam di Pango-pango, dan wisata religius dimana akan dibangun Patung Jesus yang lebih besar daripada yang ada di Brazil. FYI, patung ini tepat berada di puncak gunung yang dari rumah gw kelihatan dengan sempurna. Thats the point. :D

Terakhir gw pulang kampung, gw mengunjungi gunung Pango-Pango. Puncak gunung ini adalah yang tertinggi di Toraja. Dari sini kita bisa melihat semua daerah di Toraja. Gw baru menyadari bahwa Toraja benar-benar daerah yang dikaruniai keindahan alam yang tiada tara. Banyak gunung yang bertebaran dan diselanya itu masyarakat Toraja bermukim, bahkan sampai di puncak gunung. Pemandangan dari sini benar-benar mengagumkan. Jika kalian ke Toraja, gw sarankan untuk mengunjungi tempat ini.

tangkuban perahu

hari ini gw bareng teman-teman smp gw jalan2 bareng ke tangkuban perahu. kami menggunakan mobil yang kami carter untuk 12 jam. setelah menentukan meeting point kami bertemu di maranata.

oh iya perkenalkan teman2 gw carien, fanny, asyuti, dan yendri. kami berangkat ke lokasi jam 11 siang. perjalanan menuju lembang cukup lancar. walaupun weekend. karena kami berangkat sudah agak siang, kami memutuskan untuk makan siang di lembang. awalnya pengen makan di ampera tapi karena penuh akhirnya pindah ke restoran lain. gw lupa namanya apa.

setelah kenyang kami melanjutkan perjalanan ke tangkuban perahu. perjalanan masih lancar jaya sampai kami tiba di gerbang tangkuban perahu. kami berhenti sejenak untuk membayar tiket masuk. untungnya kami cuma dikenakan untuk 4 orang, padahal kami ada 6 orang termasuk supir. haha..

lima belas menit kemudian kami sudah berada di lokasi. setlah parkir kami langsung berhamburan menuju kawah. seperti biasa ritual wajib adalah foto2. haha. kami berjalan mengelilingi kawah.

kebiasaan membicarakan orang dalam bahasa toraja tidaklah hilang. setiap bertemu pasti ngomongin orang. mumpung orang lain tidak ngerti. haha.. kami juga sempat mencicipi jagung bakar yang rasanya lezat.. apalagi hawa yang dingin sangat cocok dengan jagung manis yang hangat.

setelah puas kami melanjutkan perjalanan ke maribaya.


 

mati seharga 50 M

aduh, gak ngerti lagi sama orang toraja. biaya pemakaman menelan biaya 50 M. sebuah nilai yang sangat besar. berikut berita yang gw copas dari http://www.sangtorayan.com/ . yang menarik adalah, yang meninggal hanyalah seorang petugas bersih2 di sebuah sekolah. tapi karena keuletannya mengasuh 12 orang anaknya sehingga mereka semua berhasil.

RAMBU SOLO’ DI TANA TORAJA

SANGTORAYAN — Butuh sekitar Rp50 miliar untuk menuntaskan seluruh rangkaian upacara adat Rambu Solo’ atau upacara kematian di Tana Toraja. Namun, bagi warga Tana Toraja, ini adalah bentuk pengabdian terhadap leluhur mereka. Rambu Solo’adalah upacara kematian yang dilestarikan secara turun temurun dari penganut Aluk To Dolo (kepercayaan masyarakat Toraja sebelum masuknya Islam dan Nasrani) di daerah ini.

Upacara adat ini adalah salah satu daya tarik wisatawan domestik dan mancanegara. Selasa (27/12), jenazah Filipus Tappi atau dikenal dengan Ne’ Sarrin dipindahkan dari tongkonan ke sebuah menara atau disebut lakkean oleh warga setempat. Lakkean ini dibangun di atas tanah lapang sebagai lokasi upacara adat yang disebut rante. Continue reading “mati seharga 50 M”

old friend

——————————————-

WordPress Topic #337:

Write about your oldest friend. Where did you meet? When did you become friends? Why do you think your friendship has lasted for so long?

——————————————-

hugo, gw, yopi, ivan
delila, carien, fanny

gw punya beberapa teman yang sampai saat ini kami masih sering berkumpul bersama. kami berteman sejak sd. waktu itu gw bertemu mereka di sd katolik renya rosari makale, tana toraja. sebuah sd swasta yang dikelola oleh suster2 jmj yang terkenal dengan kedisiplinannya. tidak heran sekolah ini menjadi favorit di masyarakat disana.

oh iya, perkenalkan nama mereka Carien, Fanny, Delila, Hugo, Ivan, Yendri, Stevie dan Yopi. sebenarnya kami tidak sekelas ketika masuk. gw, delila, ivan, hugo, dan yopi masuk di kelas IA, sedangkan carien dan yendri di kelas IB. namun entah kenapa, waktu kelas dua terjadi pergantian murid. jadi waktu itu dua orang dari IIA ditukar dengan satu orang dari IIB. dan gw termasuk dalam 2 orang itu. gw masih penasaran alasan pemindahan gw itu. karena tidak lazim adanya pemindahan murid di sekolah itu. Continue reading “old friend”

lovely december in toraja

lovely december merupakan acara tahunan yang digelar oleh pemerintah toraja untuk memeriahkan natal dan tahun baru. acara ini mulai digelar rutin beberapa tahun yang lalu. selain untuk memeriahkan acara akhir tahun, momen ini juga ditujukan unutuk menarik wisatawan lokal maupun manca negara.

bulan desember dipilih sebagai waktu penyelenggaraan karena pada bulan ini, semua perantau toraja balik ke kampung halaman untuk merayakan natal dan tahun baru bersama keluarga. selain itu momen ini bertepatan dengan liburan sekolah maupun kantor.

 

pada penyelenggaraan pertama, acara ini diberi tema “sule sang torayan ” artinya semua orang toraja pulang. acara tersebut sangat megah, diisi oleh banyak kegiatan budaya mulai dari seni tari sampai kuliner. sempat ada juga pemecahan rekor muri mengenai penari terbanyak. kegiatan dipusatkan di kolam kota makale. Continue reading “lovely december in toraja”

crew film

Hari yang sangat melelahkan setelah mencoba untuk mengerjakan TA seharian. Berfikir untuk melanjutkannya pada malam hari, tapi badan ini sudah tidak mampu. tiba-tiba ada ajakan dari Fany untuk karaoke malam ini. Sungguh ajakan yang sangat menarik. Langsung saya iyakan. Jam 7 kami bertemu di ciwalk. Seperti biasa, anggota yang datang adalah Fany, Carien, Hugo dan Yopie [minus yendri,delila,ivan]

Awalnya ingin memesan yang jam 7 tapi karena yang lain telat, jadinya diundur ke jam 8.30 . Sambil menunggu waktu, kami makan malam dulu di treehouse. Ternyata waktu berlalu begitu cepat sehingga kami telat ke NAV. Jadi reservasi kami dibatalkan, untungnya ada yg lagi kosong jadi kami langsung masuk.

Continue reading “crew film”

‘Rumah’ Orang Mati

Membaca judul diatas pasti membuat kita mengernyitkan dahi. Orang mati punya rumah? Ya, itu terjadi di Toraja. Sebelum ajaran nasrani masuk ke toraja, terdapat kepercayaan kuno yang disebut Aluk Todolo. Ajaran ini sama seperti ajaran animisme dan dinamisme  yang lain. Ajaran ini mengatakan, jika seeseorang mati, dia kan pergi ke alam nirwana (dalam bahasa toraja disebut Puya) yang letaknya di bagian selatan. Orang toraja percaya kehidupan datangnya dari utara dan kematian akan bermuara ke selatan. Dia akan membawa harta kekayaan yang dia miliki selama hidup di dunia. Untuk Pergi ke Puya, dia akan mengendarai hewan-hewan sperti kerbau. Maka dari itu, ratusan kerbau dan babi bisa dikurbankan pada pesta kematian di Toraja.

Pada jaman dahulu, untuk ‘menguburkan’ mayat dapat dilakukan dengan menyimpannya di gua pada tebing-tebing gunung yang terjal. Kemiringannya bisa sampai 90 derajad. Hal ini agar harta yang disertakan dalam gua itu tidak dapat diambil oleh orang. Semakin tinggi gua tersebut, maka semakin tinggi status sosial yang dia miliki. Lain lagi jika yang meninggal adalah bayi. Bayi yang meninggal itu akan dimasukkan ke pohon besar yang telah dilubangi terlebih dahulu.

Continue reading “‘Rumah’ Orang Mati”

Support Tana Toraja to be One of World Heritage

Wah, senang dan bangga melihat kompas.com yang mengulas tentang Tana Toraja.

Berikut petikan dari berita Kompas :

POZNAN, KOMPAS.com – Jepang mendukung usaha Indonesia menjadikan Tana Toraja sebagai nominasi warisan dunia. Untuk itu, Jepang akan ikut dalam upaya konservasi di Tana Toraja, khususnya terkait dengan rumah adat di daerah itu.

Tana toraja memang pantas jadi salah satu warisan dunia. Toraja memiliki kebudayaan yang tidak ada duanya di dunia ini. :) . Semua masih dipelihara dengan baik, walaupun pengaruh agama sudah masuk namun masyarakat toraja dengan bijak bisa menyelaraskannya. Proud to be one of them. Toraja punya banyak Upacara-Upacara Adat yang sangat unik yang menunjukkan gotong royong dan kebersamaan. Kesenian-kesenian yang beraneka ragam. Panorama alam yang indah. Udara yang sejuk. dan masyarakat yang ramah. Kalau misalnya toraja punya pantai, pasti lebih indah dari Bali. he.he. < yah kita harus menerima setiap daerah punya keunikan masing-masing >

Namun usaha itu mungkin terkendala dari pihak pemerintah yang sepertinya tidak serius mengembangkan toraja. . Membaca artikel di kompas, saya cukup malu dengan negara kita. Negara lain yaitu Jepang sangat ingin membantu untuk mempromosikan Toraja. Apakah pemerintah kita tidak malu? Mungkin jepang punya niat lain dibalik itu semua, tapi menurut saya itu akan menguntungkan kedua belah pihak.  Atau mungkin budaya pemerintah kita menunggu ada negara lain yang mengganggu kedaulatan negara kita baru mereka bertindak? Hmm…

So, write Tana Toraja in to your trip itenerary .

bali has kecak, we have ma’badong