When You Get Your Story Published On The News

Another first-time, my story is published on the newspaper.

Its a perk having some friends on another field of work. You can get other experience. So, regarding to my last trip to Sweden, I wrote an article on my photoblog.

And then I remember Anita, my friend from highschool. She works as an editor in a big newspaper in East of Indonesia. I tell her that I have a story that maybe can be published on her news. She said “off course!”.

After some editing here and there, two days ago she informed me that my story has been launched on the online news. Check the link here. And soon will be published on printed version.

How glad I am..

And finally, the printed one is here. 3/4 pages with my photos. Muahahaha..

Stress

Stress mungkin sudah menjadi bagian hidup dari manusia sebagai makhluk yang tidak sempurna. Penyebabnya bisa bermacam-macam, mulai dari karena diputusin pacar, kehabisan uang, atau kehilangan pekerjaan. Stress sendiri bisa sangat berat atau hanya berdampak sesaat. Stress berat bisa menjadi momen yang dianggap sebagai titik terendah dalam hidup. Jika stress sudah membuat seseorang kehilangan harapan atau putus asa.

Entah mulai dari kapan gw merasakan stress pertama kali, yang gw anggap sebagai momem-momen penting dalam perjalanan hidup gw. Mungkin ketika mencuri mangga tetangga sebelah terus gw gak keluar rumah seharian. haha. Tapi gw mau menuliskan momen-momen stress yang akhirnya memberikan gw pembelajaran yang berarti.

Pertama ketika kelas 6 SD, saat ujian akhir Nasional. Waktu SD gw termasuk siswa yang berprestasi, puncaknya ketika gw bisa mewakili provinsi SulSel di lomba mata pelajaran IPA. Tentu saja pamor gw naik dan pride gw juga tinggi. Singkat cerita, ketika menunggu hasil ujian Nasional, gw sudah tau kalau hasilnya tidak akan bagus karena banyak jawaban yang salah. Gw mulai stress disitu, gw gak bisa tidur. “Mau ditaruh dimana muka gw”. Ternyata gw hanya peringkat 6 di sekolah. Stress itu berlanjut ketika masuk SMP gw juga hanya peringkat 6 dari semua siswa yang mendaftar. Dari situ gw mulai belajar ‘menerima kekalahan‘.

Kedua adalah ketika SMP. Waktu itu gw sangat aktif di kegiatan Pramuka, sampai gw menjadi Pinru dan menjadi senior yang ditugaskan untuk mengatur junior-junior. Suatu saat gw membuat kegiatan tramping/hiking sebagai ujian kelulusan Tanda Kecakapan. Di akhir acara, kami berkumpul di sebuah tempat untuk test terakhir. Gw memerintahkan seorang putri untuk berlari mengambil sesuatu. Namun sialnya dia terjatuh, dan kepalanya bocor. Saat itu dunia serasa runtuh, mata gw berkunang-kunang :D. Untung gw masih bisa sadar untuk membawanya ke rumah sakit. Sialnya, putri tersebut adalah anak dari guru BP yang terkenal sangar di sekolah. Keesokan paginya, gw bersama tim disuruh berdiri dilapangan dan diberikan ceramah. Untuk putri tersebut tidak buta karena lukanya dekat dengan alis. Gw belajar ‘tanggung jawab’ saat itu.

Ketika lulus SMA, gw tidak lulus SPMB. Sekali lagi pride gw diuji. Seorang murid yang selalu juara di sekolah tidak lulus SPMB. Kalau yang ini stress nya bertahan lama, sampai setahun. Gw harus menahan malu dan juga harus ikut kuliah di universitas yang tidak terlalu bagus. Perasaan gw selalu gundah karena merasa gw masih bisa jauh lebih baik dari ini, gw harus sekolah di tempat yang orangnya ‘setara’ dengan gw. Sombong sih :D. Tapi karena perasaan ‘tidak puas’ itu yang mengantarkan gw ke ITB, kampus idaman gw. Padahal selama persiapan SPMB kedua, orang-orang tidak mendukung gw, mereka mengatakan kamu tidak akan lolos, saingannya berat. Tapi gw berhasil membuktikan gw bisa. Disitu gw diajar arti sebuah ‘kesabaran’.

Ketika kuliah, stress karena pelajaran mungkin sudah wajar yah. Teman-teman gw di kelas pintar-pintar semua. Pelajaran yang gw terima di SMA levelnya tertinggal jauh. Bahkan teman-teman gw masih bisa tertidur di dalam kelas, tapi ketika UAS, nilai mereka A. Sedangkan gw harus mengerahkan usaha yang lebih. hehe.. Stress sesungguhnya yang gw rasakan malah ketika terlibat di unit kegiatan mahasiswa. Dua kali gw merasakan stress, pertama adalah ketika Unit kami mengalami kerugian besar di salah satu kegiatan tingkat internasional yang diadakan pengurus sebelumnya. Gw harus merasakan bagaimana dikejar-kejar vendor, dipanggil pihak kampus, dicaci oleh alumni, pengurus-pengurus dibawah gw yang tidak kompak, harus mengambil keputusan yang sangat penting untuk menentukan perjalanan unit kedepannya. Dari semua itu mungkin gw dianggap sebagai ketua yang paling ‘labil’ sepanjang sejarah. Hehe. Disini gw belajar pentingnya ‘koordinasi’ ,  ‘kepemimpinan’ , ‘wibawa’, ‘pendirian’, ‘relasi’.

Tahun terakhir di kampus gw masih harus berurusan dengan Tugas Akhir. Gw sempat ganti judul dan mendapatkan topik yang cukup menantang karena harus membantu dosen yang sedang mengambil gelar doktor di Belanda. Topik tugas akhir gw diambil dari salah satu sub bab disertasi beliau. Ternyata setelah gw lakukan penelitian dan percobaan, module yang gw buat tidak mungkin dibuat di Indonesia karena keterbatasan alat. Jika dipaksakan untuk dibuat di belanda, gw baru lulus bertahun-tahun berikutnya karena harus topiknya pasti berkembang. Akhirnya diputuskan untuk menyederhanakan batasan permasalahan gw. Nah, ketika gw sudah hampir selesai mengerjakan TA, datanglah musibah berikutnya. Waktu itu gw menjadi salah satu tim pencarian dana untuk kegiatan Unit. Sialnya, selama penyebaran proposal dana, ada oknum yang memanfaatkan proposal tersebut. Jadi dia memalsukan tanda tangan rektor. Bodohnya, proposal itu kembali ditujukan ke kantor kampus. Tentu saja orang di kantor curiga. Akhirnya gw dipanggil oleh pihak kemahasiswaan. Gw diancam akan dipecat.

“Wah, kamu bisa dikeluarkan dari kampus secara tidak terhormat kalau begini”.

Gila kannn, udah mau selesai tapi malah dikeluarkan dengan tidak terhormat. Harus bilang apa ke orang tua. Saat itu gw benar-benar pasrah. Gw gak bisa tidur beberapa hari, selalu takut ketika mendengar hp gw berbunyi, apakah itu dari kantor kehormatan kemahhasiswaan. Kalau diceritakan detail, dramanya benar-benar menyakitkan. haha. Tapi akhirnya gw tidak jadi dikeluarkan karena bantuan seorang dosen yang bisa menjelaskan duduk perkaranya dengan jelas. Sebenarnya kejadian ini tidak akan terjadi jika salah ‘seorang’ anggota kami tidak memanggil oknum yang melakukan kebodohan itu. Dari kejadian ini gw belajar untuk ‘tenang’.

Yang terakhir adalah ketika gw keluar dari pekerjaan gw yang pertama. Bodohnya adalah gw keluar ketika gw belum tau mau kerja apa berikutnya. Gw harus mulai dari awal lagi, ikut job fair dan melamar sana sini. Ternyata tidak semulus yang gw bayangkan. Gw harus menjadi pengangguran selama 4-5 bulan. Selama masa penantian itu, gw sudah pasrah akan mengambil pekerjaan apapun yang menerima gw. Jual murah. haha. Tapi untungnya gw masih bisa menahan-nahan sampai akhirnya sampai akhirnya Tuhan memberikan pekerjaan yang baik.  Yang paling gokil adalah saat itu gw diterima di salah satu perusahaan baja dari Korea, bukan krakatu posco yah, tapi gw tolak karena gajinya kecil. haha. oh iya, gw juga dichallenge untuk bisa minum soju bersama klien nantinya. haha. keputusan yang gw syukuri. Nah, gw makin mengerti akan artinya ‘kesabaran’. Jangan terburu-buru memutuskan sesuatu.

Terus setelah itu tidak stress lagi? Tentu saja masih berlanjut, tapi gw masih menunggu jawabannya. haha. dan akhirnya bisa menyimpulkan apa yang harus gw pelajari.

 

Media dan kasus Jessica – Mirna

Gak di grup WA, di rumah pun pas lagi pulang cuti, yang dibahas pasti kasus Jessica-Mirna. Kasus ini sepertinya memang jadi trending topic di negri ini. Tiap sidang pasti disiarkan langsung oleh minimal dua stasiun TV. Seperti kejadian luar biasa, mengalahkan peristiwa banjir atau kebakaran yang saat ini juga sedang terjadi.

Semua berawal dari peristiwa di Cafe Olivier Grand Indonesia. Jessica dan Mirna berada di TKP di saat bersamaan, dimana Mirna sebagai korban. Banyak pihak terutama masyarakat meyakini kalau Jessica adalah pelakunya. Mama saya aja ngotot kalau lagi nonton sidang, “Kenapa gak langsung dipenjara aja?”

Mungkin sebagai masyarakat awam, kita mudah tergiring oleh media yang kadang-kadang tidak menyajikan semua fakta yang ada. Ujung-ujungnya membentuk opini publik. Namun opini publik ini belum tentu salah juga, bisa jadi kebenaran tercermin di opini tersebut. Continue reading “Media dan kasus Jessica – Mirna”

Lyfe!

ah, my last post was three months ago..

Where have I been? I’m still here, in-the-middle-of-no-where, Tembagapura. In the last three months, I really enjoy my life as traveller. On may I had a vacation to South Korea, with two friends. I have not made a post about it, too busy arranging the next itinerary :D. I will launch it soon!. And on may I went to Bali with my sister and my cousin.

IMG_3270 (Large)

About works? hmm.. I think I made a progress that my mentor trust me to continue his project. Well, its not that complicated, but still a great chance to improve my skill. I hope I can explore more. Its depends on the freeport timeline that always delayed -.-

One thing that I really enjoy about this place, as I told before, the scenery! I can go hike with my friends every Sunday, if the weather is good. I have a list of place that I want to explore with my camera. Continue reading “Lyfe!”

Chitato Rasa Indomie

Jadi semenjak gw diungsikan ke tempat terpencil, banyak hal-hal kekinian yang gw lewatkan. Biasanya gw termasuk orang yang paling update. 8-)

Sebut saja film-film terbaru, entah sudah berapa judul film yang gw lewatkan. Di Tembagapura sana akses untuk nonton sangatlah terbatas, hanya bermodalkan copian film dari teman atau nonton dari HBO. Kalau mau download tentu saja harus berkorban quota internet yang jatah cuma 8GB.

Trus akhir-akhir ini lagi heboh tentang varian baru dari kripik yang legendaris itu, Chitato. Mereka mengeluarkan varian baru dengan rasa Indomie. Emang tak terbantahkan lagi, Indomie memiliki ikatan batin yang erat dengan rakyat terutama mahasiswa yang pernah merasakan kehabisan uang.

Kebetulan pas liburan kemarin di Bulukumba, gw nemuin di Indomaret. Tinggal 2 bungkus, sepertinya laku keras. Tanpa pikir panjang gw langsung ambil trus cuss ke kasir buat bayar. Continue reading “Chitato Rasa Indomie”

Bestman

Nice couple, isn’t it? Haha..

12792214_10153525513826483_2156373782892550365_o

So, on the last January, I had my another first time, become a Bestman for my friends wedding. Friends? yes, both of them is my friend. They are Levi and Albert. Several months before, they ask me if its pssible for me to attend their wedding later. It was a tough decision because I can guarantee that I will be in Indonesia or Jakarta at least at that time. But eventually, I made it.

IMG_1072

I knew Levi first and then Albert. I met levi at St. Therecia Church Menteng. We have a kind of ‘gank’ contains I, Levi, Mely, Dayana, and Jimmy. Since then we spent our weekend together. Moreover, we are quite new in Jakarta, so we shared more experience. Sometimes we went to mall that far away from Central Jakarta. Another time we enjoyed a vacation at Pulau Pari, we went to puncak, and many more. Oh, twice or more we spent our night at nice hotel. We dont need to pay because Day have a good connection to some hotels, so we got free. Haha. And then Levi met Albert. The gank become more crowded.

The wedding party took place at Novotel Bandung. Luckily, I got day off for three weeks and perfectly matched with Albert’s wedding. I was very nervous before the wedding, worse than Albert. #sigh. Levi and Albert seemed really busy with the WO. It was such a goood lesson for me, and Daya to. Oh, the bridesmaid is Day.

I tried to overcome my nervousness by reading some blog that explain about wedding party. I preapare some stufs that recommended by that blog that I have to keep it in my pocket all the time. I bought some tissue, oil papaer, aid-band, etc.

Not only nervous, I also feel embarassed because I am the only non chinesee on this circle. Especially when I met their family. Oh, I have to learn many things. Fortunately, they did not care really much. I hope so.

At the end, It was really great time. We delivered our job as good as we can. There was a funny moment when I have to dressed Alber for photo session. It was really awkward. And also the moment when Albert’s parents ‘gave’ Albert to me to be escorted to bride’s place. I gave a wrong “pai” ( greeting in chinesee tradition). Arghh…

And now I have extra experience in my life. I have still two chance to become bestman, since Its only allowed for three times.

Congrats Albert and Levi! Happily ever after!

*I am waiting for the video and edited photo from the WO. They are very tallented.

Living in Papua

Hello World!  Hello from the other side.

So, here I am, at Papua. It has been almost four months after my first landing at Mozes Kilangin Airport at Timika. We supposed to be here since half year ago, but because of some circumstances we were not allowed to be moved. I work at Freeport Indonesia as representative of my company, Midroc Automation. We are ten people which is seven Swedish expatriates and three Indonesian.

I remember when my friend sent me a message, ” Where are you now? Which part of Indonesia?”

Honestly, I was kind of worried about the work place here before we came. I think about the hard environment, the culture, the altitude and many more. Typical me, over-thinking :D. But after living here for some days, I started to love this place.

View from my appartment

The thing that I love is the weather and the scenery. It is really beautiful here, we are surrounded by mountain and there is a lot of water fall on it. Its like the scene of Avatar movie. hehe. The air is very cold, below ten degree. Sometimes it is sunny but on the other day it will be really foggy.

About the food, actually it is really good (for the first two weeks). They serve western and Indonesian food every day at mess hall (canteen). We can take as much as we want. They also serve desert, for instance ice cream and cakes.  But then I felt really bored with those foods. I miss the Ikan asin and tempe tahu. Moreover, the food makes my cholesterol even worse. It is 264 for now. Its really high (dangerous zone). Continue reading “Living in Papua”