memberi itu ….

karena sudah harus pindah ke jakarta, gw disibukkan dengan rutinitas beres2 kamar. banyak barang yang gak mungkin gw bawa serta, jadi harus di’singkirkan’. sebagian pakaian lama sudah disumbangkan ke kegiatan sosial, kebetulan ada teman yang ngadain baksos.

satu hal yang tersisa adalah celengan gw. yang isinya uang koin pecahan 100 – 500 yang gw kumpulin selama 4 tahun. gak mungkin gw bawa karena selain berat, gak bakalan buat belanja juga. akhirnya gw putuskan untuk memberikannya ke pengemis di jalan. kebetulan di jalan dekat baltos ada pengemis yang sedang minta2. rasanya kek acara ‘tolong’ di salah satu stasiun tv. rada kagok juga sih, tapi yasudalah, toh ini juga kebaikan. alhasil gw menjadi pusat perhatian, karena saat gw ngasih lagi lampu merah. gw salah perhitungan. -___-.

 

 

 

 

Continue reading “memberi itu ….”

kost baru, derita baru

akhirnya dapat kost baru yang lumayan. lumayan fasilitasnya dan tentu saja lumayan harganya. setidaknya untuk ukuran gw. sebenarnya sih untuk daerah sekitar sini, kost ini lumayan. ada wifi yang super duper kenceng sampai pelayanan yg oke.

namun satu kendalanya adalah. di kamar gw gak ada sinyal telkomsel. damn. yang ada hanya sinyal emergency. untuk cek sms aja gw harus ke lantai dua atau ke ruang tamu. jadi sudah pasti klo ada yang telpon pasti gak bakalan masuk.

satu lagi sih yang kurang. gak ada tv. terbiasa nonton tv di kamar lama walaupun cuma tv tuner. sekarang ada tv kabel tapi gak ada tvnya. hmmm…

*keluhan tengah malam..

mati seharga 50 M

aduh, gak ngerti lagi sama orang toraja. biaya pemakaman menelan biaya 50 M. sebuah nilai yang sangat besar. berikut berita yang gw copas dari http://www.sangtorayan.com/ . yang menarik adalah, yang meninggal hanyalah seorang petugas bersih2 di sebuah sekolah. tapi karena keuletannya mengasuh 12 orang anaknya sehingga mereka semua berhasil.

RAMBU SOLO’ DI TANA TORAJA

SANGTORAYAN — Butuh sekitar Rp50 miliar untuk menuntaskan seluruh rangkaian upacara adat Rambu Solo’ atau upacara kematian di Tana Toraja. Namun, bagi warga Tana Toraja, ini adalah bentuk pengabdian terhadap leluhur mereka. Rambu Solo’adalah upacara kematian yang dilestarikan secara turun temurun dari penganut Aluk To Dolo (kepercayaan masyarakat Toraja sebelum masuknya Islam dan Nasrani) di daerah ini.

Upacara adat ini adalah salah satu daya tarik wisatawan domestik dan mancanegara. Selasa (27/12), jenazah Filipus Tappi atau dikenal dengan Ne’ Sarrin dipindahkan dari tongkonan ke sebuah menara atau disebut lakkean oleh warga setempat. Lakkean ini dibangun di atas tanah lapang sebagai lokasi upacara adat yang disebut rante. Continue reading “mati seharga 50 M”