Miserere Mei Deus – Kings College Chapel Choir

Patitur : here

Miserere, full name “Miserere mei, Deus” (Latin: “Have mercy on me, O God”) by Italian composer Gregorio Allegri, is a setting of Psalm 51 (50) composed during the reign of Pope Urban VIII, probably during the 1630s, for use in the Sistine Chapel during matins, as part of the exclusive Tenebrae service on Wednesday and Friday of Holy Week. It was the last of twelve falsobordone Miserere settings composed and chanted at the service since 1514 and the most popular: at some point, it became forbidden to transcribe the music and it was only allowed to be performed at those particular services, adding to the mystery surrounding it. Writing it down or performing it elsewhere was punishable by excommunication.[1] The setting that escaped from the Vatican is actually a conflation of verses set by Gregorio Allegri around 1638 andTommaso Bai (also spelled “Baj”; 1650–1718) in 1714.

Continue reading “Miserere Mei Deus – Kings College Chapel Choir”

toraja traditional dance

Tarian Ma’gellu awalnya dikembangkan di Distrik Pangalla’ kurang lebih 45 km ke arah Timur dari kota Rantepao dan biasanya dipentaskan pada upacara khusus yang disebut Ma’Bua’, yang berkaitan dengan upacara pentasbihan Rumah adat Toraja/Tongkonan, atau keluarga penghuni tersebut telah melaksanakan upacara Rambu Solo’ yang sangat besar (Rapasaan Sapu Randanan). Saat ini tarian Ma’gellu’ sering juga dipertunjukkan pada upacara kegembiraan seperti pesta perkawinan, syukuran panen, dan acara penerimaan tamu terhormat. Tarian ini dilakukan oleh remaja putri dengan jumlah ganjil dan diiringi irama gendang yang ditabuh oleh remaja putra yang berjumlah empat orang. Busana serta aksesoris yang digunakan adalah khusus untuk penari dengan perhiasan yang terbuat dari emas danperak seperti Keris Emas/Sarapang Bulawan, Kandaure, Sa’pi’ Ulu’, Tali Tarrung, Bulu Bawan, Rara’, Mastura, Manikkata, Oran-oran, Lola’ Pali’ Gaapong, Komba Boko’ dan lain-lainnya

photos by : Josias Ramba’ Mapandin