Persetan

New Eta

Persetan pagi ini aku tak ingin bangun lagi
Biar lepas aku kembali bermimpi
Persetan hari ini aku lelah untuk berlari
Coba untuk hindari hati disini


Belang & ballo [serta Mayat Berjalan] di toraja

TCN– Artikel berikut ini sangat jadul, dibuat pada 19 Februari 1972. Seseorang menulis pengalamannya, keunikan kerbau dan tuak (ballo) di kalangan suku Toraja di Sulawesi Selatan.

Kerbau bule (bulai = putih) terdapat dibanjak tempat, tapi kerbau belang hanja ada di Toradja. Dan bagaikan andjing poodle atau kutjing Angora, kerbau bule jang berbelang hitam itu merupakan status simbol bagi pemiliknja. Bila binatang terhormat ini ada disawah, maka ia tidak akan dibiarkan merumput sendiri, tapi sambil makan dituntun dengan seksama. Kalau kebetulan ada kerbau belang jang kelihatan membadjak sawah (dalam pengertian menghantjurkan tanah) maka itu pasti kerbau belang betina. Akan kerbau belang djantan tidak ada kerdjanja selain daripada makan dan tidur jang sempurna. Untuk tugas ini ia dihargai 10 x harga kerbau biasa. Selain dari keanehannja (diseluruh dunia, kerbau belang hanja terdapat di Toradja) maka djumlahnja jang terbatas (tidak setiap kerbau belang melahirkan anak jang djuga belang) sangat menentukan nilai dan harga binatang ini. Namun demikian tidak semua kerbau belang dinilai setaraf dan dihargai sama.

Continue reading “Belang & ballo [serta Mayat Berjalan] di toraja”

MA’ NENE, TRADISI MENGENANG LELUHUR

image

Kabut tipis menyelimuti pegunungan Balla, Kecamatan Baruppu, Tana Toraja, Sulawesi Selatan, pertengahan Agustus silam. Namun, kabut tersebut perlahan mulai tersibak dinginnya angin pagi. Hari ini, kesibukan luar biasa terjadi pada setiap penghuni warga Baruppu. Mereka tengah menggelar sebuah ritual di tempat awal mula sejarah dan misteri anak manusia yang mendiami Kecamatan Baruppu. Ritual yang selalu digelar seluruh warga Baruppu untuk melaksanakan amanah leluhur. Ma`nene, sebuah tradisi mengenang para leluhur, saudara, dan handai taulan lainnya yang sudah meninggal dunia.

Kisah Ma`nene bermula dari seorang pemburu binatang bernama Pong Rumasek, ratusan tahun lampau. Ketika itu, dirinya berburu hingga masuk kawasan hutan pegunungan Balla. Di tengah perburuannya, Pong Rumasek menemukan jasad seseorang yang meninggal dunia, tergeletak di tengah jalan di dalam hutan lebat. Mayat itu, kondisinya mengenaskan. Tubuhnya tinggal tulang belulang hingga menggugah hati Pong Rumasek untuk merawatnya. Jasad itu pun dibungkus dengan baju yang dipakainya, sekaligus mencarikan tempat yang layak. Setelah dirasa aman, Pong Rumasek pun melanjutkan perburuannya.

Continue reading “MA’ NENE, TRADISI MENGENANG LELUHUR”

Mengapa Saya

Arthur Ashe adalah petenis kulit hitam dari Amerika yang memenangkan tiga gelar juara Grand Slam; US Open (1968), Australia Open (1970), dan Wimbledon (1975).
Pada tahun 1979 ia terkena serangan jantung yang mengharuskannya menjalani operasi bypass. Setelah dua kali operasi, bukannya sembuh ia malah harus menghadapi kenyataan pahit, terinfeksi HIV melalui transfusi darah yang ia terima.
Seorang penngemarnya menulis surat kepadanya,"Mengapa Tuhan memilihmu untuk menderita penyakit itu?"
Ashe menjawab,"Di dunia ini ada 50 juta anak yang ingin bermain tenis,
diantaranya 5 juta orang yang bisa belajar bermain tenis,
500 ribu orang belajar menjadi pemain tenis profesional,
50 ribu datang ke arena untuk bertanding,
5000 mencapai turnamen grandslam,
50 orang berhasil sampai ke Wimbeldon,
empat orang di semifinal, dua orang berlaga di final.
Dan ketika saya mengangkat trofi Wimbledon, saya tidak pernah bertanya kepada Tuhan,
"Mengapa saya?", Jadi ketika sekarang saya dalam kesakitan, tidak seharusnya juga saya bertanya kepada Tuhan,
"Mengapa saya?"
Sadar atau tidak, kerap kali kita merasa hanya pantas menerima hal-hal baik dalam hidup ini; kesuksesan, karier yang mulus, kesehatan. Ketika yang kita terima justru sebaliknya; penyakit, kesulitan, kegagalan, kita menganggap Tuhan tidak adil. Sehingga kita merasa berhak untuk menggugat Tuhan.
Tetapi tidak demikian. Ia berbeda dengan kebanyakan orang. Itulah cerminan hidup beriman; tetap teguh dalam pengharapan, pun bila beban hidup yang menekan berat.
Ketika menerima sesuatu yang buruk, ingatlah saat – saat ketika kita menerima yang baik…

"Winning horse doesn’t know why it runs the race.
It runs because of beats & pain.
Life is a race, God is your rider.
So if u are in a pain, then think, God want You to win"

Donor Darah ‘Maut’ :)

Hari ini donor darah saya yang paling berkesan. Ceritanya begini:

Bulan ini merupakan jadwal saya untuk donor darah lagi karena sudah lewat 2,5 bulan sejak donor darah terakhir.

Minggu lalu ada donor darah yang diadakan 4 Labtek, namun ketika saya tiba di tempat donor, orang dari PMInya sudah beres-beres. Jadi saya tidak sempat untuk donor. Setahu saya biasanya akan ada donor darah lagi yang diadakan oleh menwa setelah yang diadakan oleh 4 labtek. Benar saja, hari senin yang lalu saya melihat pengumuman akan ada donor darah hari kamis tanggal 18 maret. Saya sudah berniat untuk mengikutinya. Namun minggu ini penuh dengan tugas dan praktikum yang bertubi-tubi. Jadi konsekuensinya saya harus begadang sampai jam 2 subuh. Kebetulan rabu kemarin saya begadang karena hari ini ada pengumpulan 2 tugas dan 3 UTS ( untung 2 diantanya take-home). Saya tidur jam 2am. Setelah mengumpulkan tugas dan mengambil soal ujian take-home, saya bergegas ke labtek 5. Disana sudah ada petugas dari PMI. Kondisi badan saya waktu itu agak kurang fit, karena begadang dan sarapan hanya roti. Saya sempat ragu apakah saya mau donor atau tidak. Setelah saya pikir-pikir kalau tidak donor sekarang, saya harus menunggu 3 bulan lagi.

Akhirnya saya memutuskan untuk donor. Saya mengisi form kemudian menimbang badan dan mengukur tensi darah. Saya sempat menyanyakan kalau saya tidurnya Cuma 6 jam apakah bermasalah. Dan petugasnya menjawab “ gak apa-apa, minimal 5 jam “. Dalam hati saya berkata “ syukurlah, tapi saya tidurnya jam 2 subuh , mudah-mudahan tidak apa-apa“.  Setelah itu saya menuju kursi donor.

Saya sengaja memilih posisi yang mengharuskan kita donor melalui tangan kanan. Namun ketika mau disuntik, ada seorang perempuan yang datang. “ Ibu, saya tidak bisa donor lewat tangan kiri, tadi sudah dicoba tapi tidak bisa keluar, saya harus lewat tangan kanan”. Jawab petugasnya “ Oh begitu, tunggu sebentar yah dek, nanti setelah mas ini “. Namun ternyata mahasiswi itu ada ujian jam 10, jadi saya mempersilahkan dia untuk donor duluan. Saya memperhatikan ketika dia donor, darahnya susah keluar dan jarumnya harus digoyan dan dimaju-mundurkan supaya darahnya keluar. Saat itu perasaan saya mulai tidak enak. Namun saya tetap memutuskan untuk donor.

Setelah mahasiswa itu selesai, ternyata darah yang keluar tidak mencukupi jadi dihentikan saja. Selanjutnya giliran saya. Saya berbaring di kursi donor dan kemudian ditensi untuk mencari pembuluh darah. Seperti biasa saya tidak mau melihat proses penyuntikannya. Ketika disuntik, rasanya sakit, tidak seperti biasanya. Saya berfikir “ pasti petugasnya baru “. Saya langsung mengingat, tadi waktu mahasiswi sebelum saya donor, petugasnya memanggil petugas yang lain untuk membantunya. Seremm… Namun petugas itu cukup ramah dan mengajak saya terus ngobrol. Mungkin salah satu cara dia untuk mencairkan suasana. Setelah beberapa saat, saya melihat kantong darah saya, “kok darahnya lambat banget keluarnya yah?”. Kepala saya juga sudah agak pusing.

Continue reading “Donor Darah ‘Maut’ :)”

Jalan menuju BAHAGIA dan SUKSES

Jalan menuju BAHAGIA dan SUKSES tidak selalu lurus:

Ada tikungan bernama KEGAGALAN,
Ada bundaran bernama KEBINGUNGAN,
Ada tanjakan bernama KESULITAN,
Lampu merah bernama MUSUH,
Lampu kuning bernama KELUARGA,
Kita akan mengalami ban kempes dan pecah, itulah HIDUP,
Ban serep bernama IMAN,
Mesin bernama PENGHARAPAN,
Asuransi bernama KASIH,
Pengemudi bernama TUHAN YESUS,

Maka sampailah kita ke tempat yang disebut SUKSES dan BAHAGIA !!!