Hiking To Cartenz

Last Sunday was not a good day for hike, but we made it anyway. The trip was planned two months ago before my vacation. I went with my boss and friends from church. On that rainy morning, we decided to keep moving, hoping that after several hours the weather will be okay.

We started our journey from Tembagapura to Grasberg by car. Since only one driver has license to drive thru the Heat Road, four of us should take instead. Tram is not that bad, it was fun, we can see the beautiful scenery from the high.

We reached the tram station at Grasberg aroud 6.30Am. The sky keep pouring water to the mountain. We changed the plan, we went to Cartenz Basecamp instead of Idenburg. Actually I have been at the trail to the basecamp last year, but its okay because it was too dangerous to hike to Idenburg because we the slippery road (actually it is slippery rocks). After driving about 15 minutes, we get the starting point at Zebra Wall. The rain stopped and the sky was clearer.

We passed the swamp easily, last year we have to take another route to avoid this deep swamp. Our first pos is the Blue Lake. There are three chained lake before Pintu angin. The last one is Blue Lake. We can erect the tent if we want to spend the night or just cook some light meal. My friend brought his drone to this trip, it was cool to see the video. :D

After spend our meal on blue lake, we continue to the basecamp. The track is easy but quite steep. Another challenge is the wind and the lack of oxygen. It made me really dizzy. We had to stop several time to get used with the altitude. On the way to the basecamp, we had to pass another four lakes. It was misty so we could not see the beautiful cliff on the other side. We reach the basecamp at 10 am.

The basecamp is located on 4275 meter above sea level. This is higher than my highest point before at Rinjani and Semeru. Yeay! It was quite sad to see the environment over there, there was a lot of garbage that left by campers/hikers.

I and three of my friends continued to hike little bit more, to Yellow Valley. The track to the top is really steep. More over the dizzy ever worse, we have to stop more. But our leader always support us to move step by step until we get the 4420 masl. From that point we can see the peak of Cartenz Pyramid. He told us a lot of story about the hikers, how to climb the cartenz, etc.

I hope I can have an opportunity one day, and also courage to step on the top of Cartenz Pyramid. :D

See you again , mountains!!!

Main Saham

Tanggal 11 Januari 2017 gw memutuskan untuk masuk lebih dalam ke dunia pasar modal. Sbelum-sebelumnya, mungkin sekitar 4 tahun, gw sudah berkecimpung di dunia reksa dana. Return yang gw sudah dapat lumayan sih, daripada tabung di bank.

Kenapa saham? Karna gw termasuk orang yang aggresif. Biasanya kalau daftar di sekuritas, kita diharuskan untuk mengambil tes agar dapat mengetahui profil tingkat resiko yang bisa kita ambil. Saham memmang lebih ‘sadis’ daripada reksa dana. Walaupun di reksadana gw ambil reksadana saham, tapi agresivitasnya tidak terlalu naik turun.

Selain itu tentu saja gw pengen return yang lebih besar lagi. Greedy mode on. Haha. Bayangkan saja dalam sehari seham bisa memberikan return 34%. Ini kalau kita main di saham ‘gorengan’ atau saham spekulatif. Tapi hidup ini memang adil, return tinggi tentu saja resiko tinggi, sehari bisa rugi 34%. Kebayang kan? Angka ini ditetapkan oleh BEI agar saham tidak terlalu ‘liar’. Istilahnya Auto reject atas (ARA) dan Auto reject bawah (ARB).

Untuk bermain saham, kita perlu mengerti tentang trading dan investor. Keduanya sama untuk mencari untung, yang membedakan hanyalah time frame. Trading jangka pendek sedangkan investing jangka panjang. Tapi kalau misalnya rugi di trading, banyak yang berpindah ke investing karena gak rela cut loss, dengan harapan nilai saham yang dibeli akan naik lagi. haha.

Sebelum masuk ke dunia saham tentu saja gw ada persiapan. Gw mulai belajar Teknikal Analisis. Selain itu ada namanya Fundamental Analisis. Teknikal analisis adalah cara untuk memprediksi pergerakan nilai saham berdasarkan perilaku grafik sebelum-sebelumnya. Ada banyak faktor yang harus dipertimbangkan, mulai dari membaca candle stick, moving average, volume, dan beberapa indicator seperti sthocastic, RSI, MACD, Fibonacci dll. Teknikal analisis cocok digunakan untuk trading. Sedangkan Fundamental analisis lebih cocok untuk jangka panjang atau investing. Jadi kita mempelajari fundamental dari perusahaan, yang paling umum adalah laporan keuangan, susunan pemegang saham, pasar dari perusahaan, politik, ekonomi, dll.

Selama tiga bulan ini, gw belajar bahwa main saham itu tidak semudah yang gw bayangkan sebelumnya. Tantangan yang paling utama bukanlah cara membaca grafik, tapi bagaimana menguasai mental diri sendiri. Kita harus tau kapan untuk mengatakan ‘cukup’.

Ketika baru mulai main saham, gw untung banyak. Dalam bulan pertama saja portofolio gw sudah berkembang hampir 20%. Lumayan kan. Gw mulai greedy dan menambah modal dari tabungan gw. Bulan kedua gw mengalami beberapa kerugian karena tidak sabar dan rasa serakah.

Oh iya, semenjak main saham, gw bergabung di beberapa grup yang membahas mengenai saham, prediksi harga, sapai curhat2an karena ‘nyangkut’ (istilah ketika membeli saham di harga tinggi kemudian harga saham terus turun). Kebanyakan mereka menggunakan aplikasi Telegram. Telegram teranyata sangat powerfull.

Terus, bulan ketiga apakah gw sudah untung?  tunggu di postingan-postingan berikutnya.. :)

Stress

Stress mungkin sudah menjadi bagian hidup dari manusia sebagai makhluk yang tidak sempurna. Penyebabnya bisa bermacam-macam, mulai dari karena diputusin pacar, kehabisan uang, atau kehilangan pekerjaan. Stress sendiri bisa sangat berat atau hanya berdampak sesaat. Stress berat bisa menjadi momen yang dianggap sebagai titik terendah dalam hidup. Jika stress sudah membuat seseorang kehilangan harapan atau putus asa.

Entah mulai dari kapan gw merasakan stress pertama kali, yang gw anggap sebagai momem-momen penting dalam perjalanan hidup gw. Mungkin ketika mencuri mangga tetangga sebelah terus gw gak keluar rumah seharian. haha. Tapi gw mau menuliskan momen-momen stress yang akhirnya memberikan gw pembelajaran yang berarti.

Pertama ketika kelas 6 SD, saat ujian akhir Nasional. Waktu SD gw termasuk siswa yang berprestasi, puncaknya ketika gw bisa mewakili provinsi SulSel di lomba mata pelajaran IPA. Tentu saja pamor gw naik dan pride gw juga tinggi. Singkat cerita, ketika menunggu hasil ujian Nasional, gw sudah tau kalau hasilnya tidak akan bagus karena banyak jawaban yang salah. Gw mulai stress disitu, gw gak bisa tidur. “Mau ditaruh dimana muka gw”. Ternyata gw hanya peringkat 6 di sekolah. Stress itu berlanjut ketika masuk SMP gw juga hanya peringkat 6 dari semua siswa yang mendaftar. Dari situ gw mulai belajar ‘menerima kekalahan‘.

Kedua adalah ketika SMP. Waktu itu gw sangat aktif di kegiatan Pramuka, sampai gw menjadi Pinru dan menjadi senior yang ditugaskan untuk mengatur junior-junior. Suatu saat gw membuat kegiatan tramping/hiking sebagai ujian kelulusan Tanda Kecakapan. Di akhir acara, kami berkumpul di sebuah tempat untuk test terakhir. Gw memerintahkan seorang putri untuk berlari mengambil sesuatu. Namun sialnya dia terjatuh, dan kepalanya bocor. Saat itu dunia serasa runtuh, mata gw berkunang-kunang :D. Untung gw masih bisa sadar untuk membawanya ke rumah sakit. Sialnya, putri tersebut adalah anak dari guru BP yang terkenal sangar di sekolah. Keesokan paginya, gw bersama tim disuruh berdiri dilapangan dan diberikan ceramah. Untuk putri tersebut tidak buta karena lukanya dekat dengan alis. Gw belajar ‘tanggung jawab’ saat itu.

Ketika lulus SMA, gw tidak lulus SPMB. Sekali lagi pride gw diuji. Seorang murid yang selalu juara di sekolah tidak lulus SPMB. Kalau yang ini stress nya bertahan lama, sampai setahun. Gw harus menahan malu dan juga harus ikut kuliah di universitas yang tidak terlalu bagus. Perasaan gw selalu gundah karena merasa gw masih bisa jauh lebih baik dari ini, gw harus sekolah di tempat yang orangnya ‘setara’ dengan gw. Sombong sih :D. Tapi karena perasaan ‘tidak puas’ itu yang mengantarkan gw ke ITB, kampus idaman gw. Padahal selama persiapan SPMB kedua, orang-orang tidak mendukung gw, mereka mengatakan kamu tidak akan lolos, saingannya berat. Tapi gw berhasil membuktikan gw bisa. Disitu gw diajar arti sebuah ‘kesabaran’.

Ketika kuliah, stress karena pelajaran mungkin sudah wajar yah. Teman-teman gw di kelas pintar-pintar semua. Pelajaran yang gw terima di SMA levelnya tertinggal jauh. Bahkan teman-teman gw masih bisa tertidur di dalam kelas, tapi ketika UAS, nilai mereka A. Sedangkan gw harus mengerahkan usaha yang lebih. hehe.. Stress sesungguhnya yang gw rasakan malah ketika terlibat di unit kegiatan mahasiswa. Dua kali gw merasakan stress, pertama adalah ketika Unit kami mengalami kerugian besar di salah satu kegiatan tingkat internasional yang diadakan pengurus sebelumnya. Gw harus merasakan bagaimana dikejar-kejar vendor, dipanggil pihak kampus, dicaci oleh alumni, pengurus-pengurus dibawah gw yang tidak kompak, harus mengambil keputusan yang sangat penting untuk menentukan perjalanan unit kedepannya. Dari semua itu mungkin gw dianggap sebagai ketua yang paling ‘labil’ sepanjang sejarah. Hehe. Disini gw belajar pentingnya ‘koordinasi’ ,  ‘kepemimpinan’ , ‘wibawa’, ‘pendirian’, ‘relasi’.

Tahun terakhir di kampus gw masih harus berurusan dengan Tugas Akhir. Gw sempat ganti judul dan mendapatkan topik yang cukup menantang karena harus membantu dosen yang sedang mengambil gelar doktor di Belanda. Topik tugas akhir gw diambil dari salah satu sub bab disertasi beliau. Ternyata setelah gw lakukan penelitian dan percobaan, module yang gw buat tidak mungkin dibuat di Indonesia karena keterbatasan alat. Jika dipaksakan untuk dibuat di belanda, gw baru lulus bertahun-tahun berikutnya karena harus topiknya pasti berkembang. Akhirnya diputuskan untuk menyederhanakan batasan permasalahan gw. Nah, ketika gw sudah hampir selesai mengerjakan TA, datanglah musibah berikutnya. Waktu itu gw menjadi salah satu tim pencarian dana untuk kegiatan Unit. Sialnya, selama penyebaran proposal dana, ada oknum yang memanfaatkan proposal tersebut. Jadi dia memalsukan tanda tangan rektor. Bodohnya, proposal itu kembali ditujukan ke kantor kampus. Tentu saja orang di kantor curiga. Akhirnya gw dipanggil oleh pihak kemahasiswaan. Gw diancam akan dipecat.

“Wah, kamu bisa dikeluarkan dari kampus secara tidak terhormat kalau begini”.

Gila kannn, udah mau selesai tapi malah dikeluarkan dengan tidak terhormat. Harus bilang apa ke orang tua. Saat itu gw benar-benar pasrah. Gw gak bisa tidur beberapa hari, selalu takut ketika mendengar hp gw berbunyi, apakah itu dari kantor kehormatan kemahhasiswaan. Kalau diceritakan detail, dramanya benar-benar menyakitkan. haha. Tapi akhirnya gw tidak jadi dikeluarkan karena bantuan seorang dosen yang bisa menjelaskan duduk perkaranya dengan jelas. Sebenarnya kejadian ini tidak akan terjadi jika salah ‘seorang’ anggota kami tidak memanggil oknum yang melakukan kebodohan itu. Dari kejadian ini gw belajar untuk ‘tenang’.

Yang terakhir adalah ketika gw keluar dari pekerjaan gw yang pertama. Bodohnya adalah gw keluar ketika gw belum tau mau kerja apa berikutnya. Gw harus mulai dari awal lagi, ikut job fair dan melamar sana sini. Ternyata tidak semulus yang gw bayangkan. Gw harus menjadi pengangguran selama 4-5 bulan. Selama masa penantian itu, gw sudah pasrah akan mengambil pekerjaan apapun yang menerima gw. Jual murah. haha. Tapi untungnya gw masih bisa menahan-nahan sampai akhirnya sampai akhirnya Tuhan memberikan pekerjaan yang baik.  Yang paling gokil adalah saat itu gw diterima di salah satu perusahaan baja dari Korea, bukan krakatu posco yah, tapi gw tolak karena gajinya kecil. haha. oh iya, gw juga dichallenge untuk bisa minum soju bersama klien nantinya. haha. keputusan yang gw syukuri. Nah, gw makin mengerti akan artinya ‘kesabaran’. Jangan terburu-buru memutuskan sesuatu.

Terus setelah itu tidak stress lagi? Tentu saja masih berlanjut, tapi gw masih menunggu jawabannya. haha. dan akhirnya bisa menyimpulkan apa yang harus gw pelajari.

 

Media dan kasus Jessica – Mirna

Gak di grup WA, di rumah pun pas lagi pulang cuti, yang dibahas pasti kasus Jessica-Mirna. Kasus ini sepertinya memang jadi trending topic di negri ini. Tiap sidang pasti disiarkan langsung oleh minimal dua stasiun TV. Seperti kejadian luar biasa, mengalahkan peristiwa banjir atau kebakaran yang saat ini juga sedang terjadi.

Semua berawal dari peristiwa di Cafe Olivier Grand Indonesia. Jessica dan Mirna berada di TKP di saat bersamaan, dimana Mirna sebagai korban. Banyak pihak terutama masyarakat meyakini kalau Jessica adalah pelakunya. Mama saya aja ngotot kalau lagi nonton sidang, “Kenapa gak langsung dipenjara aja?”

Mungkin sebagai masyarakat awam, kita mudah tergiring oleh media yang kadang-kadang tidak menyajikan semua fakta yang ada. Ujung-ujungnya membentuk opini publik. Namun opini publik ini belum tentu salah juga, bisa jadi kebenaran tercermin di opini tersebut. Continue reading “Media dan kasus Jessica – Mirna”

Toleransi? Lihatlah di Toraja

Salah satu topik yang menjadi pusat perhatian masyarakat dan isue yang sangat sexy untuk di-blow up  media : Toleransi.

Hampir setiap bulan kita mendengar berita yang mencederai toleransi di negri ini, disamping kasus Jessica yang belum kelar-kelar. Mulai dari pembakaran Wihara sampai penyerangan sejumlah oknum ke sebuah Gereja. Masyarakaat mulai mempertanyakan, pakah di negri ini masih ada toleransi antar umat beragama?

Indonesia selalu [mengaku] bangga akan tolerasi beragama yang dijunjung tinggi. Namun bagi saya sendiri itu hanyalah sebuah fatamorgana. Mungkin toleransi di negeri ini jauh lebih baik dibandingkan dengan di negeri lain. [Mungkin!]. Tapi dari beberapa negeri yang pernah saya kunjungi, toleransi mereka jauh lebih baik dibandingkan negeri ini. Ironisnya negeri itu tidak beragama. #sigh.

Kembali ke topik. Contoh yang sangat jelas mengenai tolerasi beragama adalah kebebasan untuk melaksanakan ibadah. Terus terang di tulisan ini saya akan menulisakan friksi antara kaum mayoritas (Muslim) dan minoritas (non muslim) dimana kaum mayoritas memiliki ‘keleluasaan’ untuk membatasi sang minoritas. Kenapa? Karena itu yang saya saksikan. Continue reading “Toleransi? Lihatlah di Toraja”

Lyfe!

ah, my last post was three months ago..

Where have I been? I’m still here, in-the-middle-of-no-where, Tembagapura. In the last three months, I really enjoy my life as traveller. On may I had a vacation to South Korea, with two friends. I have not made a post about it, too busy arranging the next itinerary :D. I will launch it soon!. And on may I went to Bali with my sister and my cousin.

IMG_3270 (Large)

About works? hmm.. I think I made a progress that my mentor trust me to continue his project. Well, its not that complicated, but still a great chance to improve my skill. I hope I can explore more. Its depends on the freeport timeline that always delayed -.-

One thing that I really enjoy about this place, as I told before, the scenery! I can go hike with my friends every Sunday, if the weather is good. I have a list of place that I want to explore with my camera. Continue reading “Lyfe!”

Ketika rakyat ingin memilih pemimpinnya sendiri

Ahok, sebuah gebrakan yang luar biasa di kancah perpolitikan Indonesia. Gebrakan ini tentu saja tidak terjadi begitu saja, tapi dimulai ketika pemilihan umum untuk presiden periode 2014-2015 ketika Jokowi akhirnya memutuskan utuk maju sebagai calon presiden.

Sebelumnya, Ahok dan Jokowi tidak terlalu memliki popularitas yang tinggi ketika mereka mencalonkan diri menjadi orang nomor satu dan dua di Jakarta. Entah bagaimana mereka bisa memenangi pertarugan melawan gubernur sebelumnya. Namun hal itu berubah ketika mereka berhasil membawa perubahan sedikit demi sedikit pada wajah Jakarta yang sudah di tahap memprihatinkan. Mereka menggebrak budaya-budaya kotor yang sudah mengakar di system pemerintahan, sampai memperbaiki tata kota. Dari situ masyarakat melihat bahwa masih ada orang yang benar-benar ingin memperbaiki Jakarta dengan cara yang lebih bersih.

Ketika Jokowi menjadi calon presiden, banyak dukungan yang dieroleh dari seluruh penjuru negri ini. Mereka melihat sosok yang tepat untuk membangun negri ini, bahakan ada yang mengatakan Jokowi adalah titisan ‘sesuatu’ setelah beberapa ratus tahun, dan kita harus memanfaatkan momen ini. Perjalanan Jokowi tentu saja tidak semulus popularitas yang diterimanya, banyak juga yang berusaha menghalangi, terutama politikus yang merasa terancam. Namun sekali lagi, dukungan masyarakat sangat mengambil peranan penting. Saya ingat ketika hari pemilihan, banyak anak muda yang sebelumnya apatis, termasuk saya, rela untuk mengurus surat ke kelurahan agar bisa ikut memilih di tempat perantauan. Continue reading “Ketika rakyat ingin memilih pemimpinnya sendiri”

Toraja or Brazil ?

Everyone knows the statue of Christ The Redeemer in Brazil. It is a popular tourist destination in South America, especially for Christian people. And now, we have it also in Toraja. Its called Christ The King. The height is taller than the one in Brazil. It was built two years ago and it almost finish now.

IMG_1113
Waiting for Sunrise

I have been there several time to take picture from above. This morning, ramdomly I decided to climb again. It was a perfect moment because the mountain is covered by the mist and cloud. I went there by motorcylce. The road is better than before. It took about 30 minutes from my home. Continue reading “Toraja or Brazil ?”

Chitato Rasa Indomie

Jadi semenjak gw diungsikan ke tempat terpencil, banyak hal-hal kekinian yang gw lewatkan. Biasanya gw termasuk orang yang paling update. 8-)

Sebut saja film-film terbaru, entah sudah berapa judul film yang gw lewatkan. Di Tembagapura sana akses untuk nonton sangatlah terbatas, hanya bermodalkan copian film dari teman atau nonton dari HBO. Kalau mau download tentu saja harus berkorban quota internet yang jatah cuma 8GB.

Trus akhir-akhir ini lagi heboh tentang varian baru dari kripik yang legendaris itu, Chitato. Mereka mengeluarkan varian baru dengan rasa Indomie. Emang tak terbantahkan lagi, Indomie memiliki ikatan batin yang erat dengan rakyat terutama mahasiswa yang pernah merasakan kehabisan uang.

Kebetulan pas liburan kemarin di Bulukumba, gw nemuin di Indomaret. Tinggal 2 bungkus, sepertinya laku keras. Tanpa pikir panjang gw langsung ambil trus cuss ke kasir buat bayar. Continue reading “Chitato Rasa Indomie”

Tanjung Bira, Bulukumba

I spent my first week of my vacation this time at Bulukumba, visiting Bara beach. It supposed to be in January, but after having discussion with hostel owner, Jordan, he recommended me to come on March. He was true, this month is the best time to enjoy the beach, no rain and cloudy sky.

 IMG_1060

After landed in Makassar, I stayed at really cheap hostel at Panakkukang. It was only 75K with great facility and breakfast. #heaven. Haha. It is Makassar Guest House. If you want to stay at makassar for couples of day, this hostel can be one of your choice. Located in the central of makassar.

On the next day, I went to Malengkeri Terminal to catch my ‘bus’ to bulukumba. I was lucky because as I arrived there, a ‘bus’ just want to depart. On that ‘bus’ I met Isabele and Julia, and they become my travel mate for two days. Continue reading “Tanjung Bira, Bulukumba”

Bestman

Nice couple, isn’t it? Haha..

12792214_10153525513826483_2156373782892550365_o

So, on the last January, I had my another first time, become a Bestman for my friends wedding. Friends? yes, both of them is my friend. They are Levi and Albert. Several months before, they ask me if its pssible for me to attend their wedding later. It was a tough decision because I can guarantee that I will be in Indonesia or Jakarta at least at that time. But eventually, I made it.  Continue reading “Bestman”

Living in Papua

Hello World!  Hello from the other side.

So, here I am, at Papua. It has been almost four months after my first landing at Mozes Kilangin Airport at Timika. We supposed to be here since half year ago, but because of some circumstances we were not allowed to be moved. I work at Freeport Indonesia as representative of my company, Midroc Automation. We are ten people which is seven Swedish expatriates and three Indonesian.

I remember when my friend sent me a message, ” Where are you now? Which part of Indonesia?”

Honestly, I was kind of worried about the work place here before we came. I think about the hard environment, the culture, the altitude and many more. Typical me, over-thinking :D. But after living here for some days, I started to love this place.

View from my appartment

The thing that I love is the weather and the scenery. It is really beautiful here, we are surrounded by mountain and there is a lot of water fall on it. Its like the scene of Avatar movie. hehe. The air is very cold, below ten degree. Sometimes it is sunny but on the other day it will be really foggy.

About the food, actually it is really good (for the first two weeks). They serve western and Indonesian food every day at mess hall (canteen). We can take as much as we want. They also serve desert, for instance ice cream and cakes.  But then I felt really bored with those foods. I miss the Ikan asin and tempe tahu. Moreover, the food makes my cholesterol even worse. It is 264 for now. Its really high (dangerous zone). Continue reading “Living in Papua”

Mount Rinjani

#sembalun #summit #hypotermia #sunset #sunrise

Those are our main topic for three days in Lombok. Yes, we were at Mount Rinjani!

12139942_10206596458303173_6274400458404957064_o

Two weeks ago, my friend posted on whatsapp group about travelling to Lombok and conquer the legendary Rinjani. “It is my call”. Without hesitation I contacted my friend and promise him if my schedule fit with his plan, I will join. And then, It turned okay.

*for more photo, please visit

Every mountain top is within reach if you just keep climbing.

I went to Lombok alone at Tuesday afternoon. I booked a flight at Batik Air, unfortunately the departure was from Halim Airport. That was my first time to visit this place. The airport is really small compare to Soetta Airport. I love Batik Air, I get Garuda taste with cheaper price. I also can use my earphone to watch the movie.

I met Mail and Rhey at Lombok Airport two hours later, they took the latest flight. In one our our driver came to pick us up. He is really generous, he gave us a free of charge to spend the night at his home. Actually, our plan was to sleep at airport, but he explained that it was a terrible idea. And thats true, no one stayed at airport. Eventhough I still can sleep well until sunrise. Continue reading “Mount Rinjani”

Fun Gathering

Another gathering of my choir. This year is 10th anniversary of my choir so we celebrate it more merrier . We had outing, concert, sarasehan, and mass several months ago.

A real friend is one who walks in when the rest of the world walks out

After finishing our sunday service at Vatican Embassy, we went to Pondok Indah, home of one CVJ member. She a rich lady yet very generous. She prepared her home for our venue. Different from previous gathering, this one is more relax, we just had lunch together and delivered a game.

The game was quite challenging, we were separated in to five groups. Each group had to vote their own leader and take one task from  committee. We were given bunch of straws. The objection is to build a ‘thing’ based on our leader selection. My group had to build a bridge.  Continue reading “Fun Gathering”